Kisah Horor Jepang bersama Dimas Setiaboedi

Ini adalah part keduanya dari tour Virtual Tour Guide tentang kisah horor dan tempat terkenal di Jepang, sebelumnya yang tadi itu bahas sedikit urband legend dan tempat-tempat angker di Jepang. Tulisan ini akan membahas part kedua tentang berbagai kisah horor Jepang yang akan diceritakan oleh Kak Dimas Setiaboedi, sengaja aku pisahkan ke tulisan ini karena sangat panjang tulisannya kalau digabungin bersama list-list tempat angker dan urband legend di tulisan yang sebelumnya. Untuk ceritanya aku sengaja dibuat menjadi kayak sebuah cerpen kecil dengan gaya bahasaku sendiri supaya lebih wow aura horornya, biar enak aja bacanya.

*Warning : Sebelum membaca kisah ini diharapkan kalian harus cek dulu apakah disekitar kalian aman? apakah tinggal bersama keluarga atau sendiri? kalau misalkan ada yang merasakan hal ganjil disekitarnya saat ketika kalian sedang baca kisah ini boleh ceritakan pengalaman sedikit dengan tulis komen dibawah ya. Kalau kalian ingin merasakan horornya boleh kok baca sambil matiin lampu atau pas di malam jum’at ya ^^

Berikut inilah kisah-kisah horor Jepang dari Kak Dimas Setiaboedi.

1. Apartemen

Apartemen

Ini adalah kisah dari seorang anak muda yang bekerja sebagai Food delivery di Restoran yang mengalami hal-hal menyeramkan ketika berkunjung ke sebuah apartemen lama, semoga kalian bisa membacanya sampai habis.

Halo, cerita ini adalah pengalamanku yang mungkin tidak akan melupakan kejadian itu. Cerita ini bermula ketika aku bekerja sampingan di sebuah restoran sebagai pengantar makanan, suatu hari sebuah telepon berdering disampingku dan aku segera mengangkat telepon itu. “Halo dari Restoran XXX, ada yang bisa kami bantu?” sapaku.

“Halo, saya mau pesan makanan XXX dan XXX, bisakah anda mengantar pesanan saya ke apartemen?” ucapnya dengan pelan.

“Baik, lewat delivery ya. Oke, mohon ditunggu pesanannya ya, terimakasih.” usai mendapat pesanan dari apartemen, aku langsung bersiap diri untuk segera mengantarkan pesanan makananya ke kesana. Aku terus menggoes sepedanya dengan kuat agar bisa sampai ke tempat tujuan, akhirnya aku berhenti di depan apartemen yang lumayan besar dengan lapisan dindingnya yang cukup kusam. Ku turun dari sepedanya dan memasuki apartemen itu sambil membawa pesanannya, didalamnya ternyata sangat kumuh dan tidak ada satupun seseorang disana. Suasananya begitu lembap dan sunyi sehingga menciptakan aura yang mencekam yang membuat buluk kuduku merinding, tetapi aku terus berpikiran positif dan terus mencari ruang apartemen dimana orang itu yang memasan makanannya.

Aku merasa menyesal karena tidak menanyakan dimana letak ruang apatemennya, tiba-tiba ponsel ku berdering disakuku dan segera aku mengeluarkan ponsel itu dan ternyata itu telepon dari orang yang memesan makanan itu. “Saya sudah sampai di apartemen. Maaf, ruangannya ada dimana ya?” tanyaku dengan sopan.

“Di ruang manajer” jawabnya dengan cepat. Aku mencari disekitar apartemen dari sana sampai sini yang akhirnya kutemukan ruang manajer yang letaknya di belakang apartemen.

Tok Tok Tok !

Tidak ada jawabannya? aku merasa mungkin tidak ada orang di dalam, tiba-tiba pintunya terbuka dan mendapati seseorang dengan wajahnya yang pucat di depan pintunya, gak hanya orangnya saja. Bahkan di belakang orang itu ruangannya kumuh disertai lampunya yang remang-remang.

“Ehh.. Saya kira anda sedang pergi sehingga gak ada orang di ruangan ini, maaf telah menunggu lama karena saya lagi keliling-keliling mencari ruang manajernya.” kataku sambil tertawa kikuk. Namun orang itu tidak menanggapi penjelasan dariku dan hanya berdiam saja, kemudian orang itu menerima pesanannya dan membayarnya begitu saja tanpa mengucap kata sedikit pun sambil menutup pintu. Usai pulang dari apartemen, aku tidak merasakan hal-hal negatif disana dan tetap bersikap santai saja. “Ahh.. paling semua penghuninya lagi ada di dalam kamar apartemen.”

Besoknya aku mengecek ke tempat kasir untuk melihat hasil penghasilan yang didapat, tetapi kok berkurang 200 ribu ya dan angkanya itu sama dari pesanan dari orang yang di apartemen itu kemarin. Aku merasa tak enak jika harus menanyakan hal ini kepada bosku, tiba-tiba seseorang menepukku dari belakang. “Hei!” aku terkejut melihat kearah belakang yang ternyata itu si bos restoranku yang ada di belakangku. “Saya lihat anda merasa lelah, mending kamu istirahat saja.” kata bosku.

Sebenarnya aku merasa takut jika menanyakan masalah ini gara-gara orang yang di apartemen kemarin, namun aku beranikan dirinya sebagai tanggu jawabku, “Maaf.. pak, sebenarnya begini-” sayangnya ucapanku justru terpotong oleh omongan bosku.

“Saya tahu kok, kalau penghasilannya itu berkurang, lebih baik kamu istirahat saja.” Ternyata bosku tahu tentang kekurangan penghasilan itu, kok dia bisa tahu ya? Saat kami sedang beristirahat, si bosku ini bertanya kepadaku. “Apa benar kemarin kamu mengantarkan makanan itu ke apartemen?”

“Iya, pak.”

“Apakah kamu sudah cek alamat itu lagi?” tanyanya.

“Saya sudah mencek alamat itu, pak!”

“Mending kamu istirahat aja deh.” tukasnya dengan kata-katanya yang masih terus mengulang untuk menyarankan ini kepadaku.

Di hari berikutnya, aku berbincang lagi dengan bosku dan ia malah memperingatkanku sambil berkata, “Kalau kamu dapat telepon dari orang itu, sebaiknya jangan diterima lagi.” Aku heran mendengar peringatan dari bosku untuk melarangku menerima pesanan dari orang yang kemarin. “Memangnya orang itu kenapa pak?”

Si bos itu hanya menghela nafas sebentar dan terlihat raut wajahnya seperti merasa tak enak, “Sebenarnya saya ingin menceritakan hal ini kepada kamu, orang yang menelpon kamu itu sebenarnya adalah manajer apartemen yang merupakan langganan baik saya. Entah kenapa suatu hari tiba-tiba dia berhenti memesan makanan di restoran kita karena katanya salah satu anggota dari keluarganya meninggal sehingga apartemennya gak keurus lagi. Setahu saya manajernya itu sudah meninggal pada waktu itu, Jadi saat kamu sedang mengantarkan pesanan makanan ke orang itu, saya kira keluarganya sudah kembali untuk mengurusi apartemen itu lagi. Besoknya saat saya cek kesana kok tiba-tiba jadi sepi dan gak ada penghuninya lagi, saat kucoba mengetuk pintu ruang manajernya juga gak ada yang nyaut. Begitu saya mencoba buka pintu itu yang gak dikunci, saya mendapati sebuah pesanan makanan yang diantar sama kamu itu sudah berceceran dimana-dimana dan gak ada satupun bekas yang dimakan oleh orang itu. Melihat itu, saya panik dan segera memutuskan untuk meninggalkan apartemen kumuh itu. Saya yakin bahwa kamu yang nganterin pesanan ke orang itu sebenarnya hantu langganan saya dulu.” jelasnya sambil panjang lebar.

Mendengar cerita itu, seketika tubuhku menjadi merinding dan merasa ketakutan. Jadi selama ini orang yang kemarin muncul di depan pintu apartemen itu ternyata adalah.. Hantu? aku merasa ketakutan setengah mati. Tiba-tiba sebuah telepon berdering dan bos itu mengangkat ganggang teleponnya, ternyata itu adalah suara dari hantu manajer yang selalu memesan makanannya kemarin. “Maaf, kami tidak bisa delivery hari ini.” ujar bosnya.

“Oh, sayang sekali.” ucapnya dengan pelan yang kemudian kembali menutup teleponnya.

Sejak kejadian kemarin itulah aku memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaan restorannya sekaligus pindah dari tempat restoran dan apartemen dengan pergi yang sangat jauh.

2. Sekolah

Sekolah

Selanjutnya ada cerita horor lagi nih dari Kak Dimas yang ini sih bukan cerita asli sih, tetapi dijamin ceritanya juga tak kalah horor daripada cerita yang sebelumnya, kisah ini tentang kisah 4 anak muda saat melakukan uji nyali di sebuah sekolah angker.

Alkisah ada sekelompok 4 anak muda yang bernama Nichi, Mikio, Takashi, dan Hiro. Mereka ini melakukan uji nyali ke sekolah malam-malam untuk membuktikan tentang legenda horor yang ada disana. “Katanya mata patung itu bakal bergerak dan selalu berubah arah saat malam hari.” ujarnya salah satu orang yang bernama Hiro. Mereka pun pergi ke sebuah patung yang berdiri kokoh di area sekolahnya untuk membuktikan apakah matang patung itu bergerak atau tidak, sanyangnya mata patung itu tidak menunjukkan perubahan sekalipun dan hanya menatap ke kiri saja.

“Cih! ternyata itu bohong, yuk kita masuk ke sekolah.” ucap Nichi yang merasa kecewa. Mereka pun memutuskan memasuki kedalam sekolah itu dengan kondisinya yang sangat gelap dan lembap meskipun beberapa lampu remang yang menerangi di beberapa sudut sekolah, mereka pun tiba disebuah tangga sekolah yang konon juga mengalami hal yang ganjil. “Dengar-dengar katanya sih jumlah anak tangga ini suka berubah-ubah saat malam hari, kita harus cek dulu nih apakah ini benar apa tidak.” Mereka pun berhitung jumlah anak tangga dari atas sampai bawah, hasilnya menjadi 13 anak tangga yang lagi-lagi membuat mereka kecewa lagi. “Payah, legenda itu bohong!” ujar Mikio dengan kesal.

“Eh.. coba yuk ke ruang lab, katanya sih kalau ada yang buka kran air itu isinya malah berubah.” kata Nichi.

“Ayokk!” serunya dengan kompak.

Mereka pun memutuskan pergi ke ruang lab untuk membuktikan apakah air yang ada di kran itu warnanya berubah, saat salah satu temannya mencoba buka kran airnya yang ternyata isinya hanyalah air biasa saja membuat mereka jengkel. “Bagaimana kalau kita pergi ke toilet laki-laki yang ada di lantai bawah? mungkin saja disana lebih seram.” Nichi mengajak mereka untuk pergi ke tempat toilet laki-laki yang ada di lantai bawah, ia yakin bahwa toiletnya pasti jauh lebih seram dibanding tempat yang lainnya.

Tadinya mereka pemberani justru merasa ketakutan ketika berada di depan toilet, hawanya menjadi semakin dingin dan menusuk kulit-kulit mereka sampai keringat dinginnya meluncur di pelipisnya. “Entah kenapa aku tidak mau memasuki toilet itu.” kata Mikio.

“Aku juga.” mereka pun juga sama terlihat ketakutan kecuali Nichi, yang melihat teman-temannya dengan sedikit jengkel. “Gimana sih, gitu aja kok takut. Katanya kalian pemberani! mending aku masuk aja.” Nichi pun memberanikan diri untuk memasuki ke dalam toilet yang sangat gelap, “Kau serius?” kata Mikio.

“Iyalah, sekalian mau buktiin bahwa hantu itu benar-benar ada. Mending kalian tunggu di luar aja.” jawabnya dengan ketus sambil memasuki toiletnya dengan santai, beberapa menit kemudian Nichi keluar dari toilet dengan wajahnya yang senang. “Cepat sekali, Nichi.” kata Hiro dengan heran. Nichi hanya bisa senyum sinis saja yang seolah-olah terlihat menyombongkan ke teman-temannya. “Kata siapa toilet itu seram, tidak ada apa-apa kok di dalam situ. Kaliannya aja yang penakut.” Teman-temannya hanya bisa terdiam melihat keberaniannya Nichi dan wajahnya tidak menunjukkan takut sekalipun. “Sudahlah, ayo kita pulang. Sudah cukup nih uji nyalinya.” Akhirnya mereka memutuskan meninggalkan sekolah ini dengan perasaan yang lega, mereka terlihat tertawa sambil bercanda bahwa legenda horor di sekolah itu mitos dan tidak menemukan apa-apa selain hawanya dingin dan tempatnya gelap.

Besoknya, seorang ibunya Nichi tampak khawatir memikirkan anaknya yang belum pulang dari kemarin, ia menelpon ke salah satu temannya Nichi untuk menanyakan keberadaan Nichi. “Halo, kamu lihat anak saya, Nichi, gak? soalnya dia kabur dari rumah tanpa memberitahu mama sama sekali dan sampai sekarang Nichi belum pulang.” Temannya yang mendengar itu merasa bingung dan berusaha menangkannya, “Jangan khawatir bu, Nichi sudah pulang bersama kami.” Ibunya bingung mendengar jawaban dari temannya itu, tetapi kok kenapa Nichi gak pulang ke rumahnya, akhirnya ibunya Nichi memutuskan untuk bertemu para ibu teman mereka, teman-temannya, dan sejumlah pihak sekolah.

Saat mereka bertemu, seorang kepala sekolah menanyakan ke tiga temannya Nichi untuk menjelaskan pengakuan mereka soal kemarin. “Kemarin malam kalian ini pergi kemana aja?” salah satu temannya bernama Hiro merasa tidak enak untuk menceritakan masalah ini kepada kepala sekolah dan para ibunya, akhirnya Hiro menceritakan masalah ini dengan perasaan yang bersalah, “Maafkan kami, sebenarnya kami dan Nichi sedang pergi ke sekolah kemarin malam untuk membuktikan legenda horor yang ada disana.” Kepala sekolah itu mengernyitkan alisnya dan menyela pembicaraan Hiro yang belum selesai cerita. “Tunggu, kalian bilang apa?”

“Kami dan Nichi pergi ke sebuah patung untuk membuktikan bahwa katanya mata patung itu bisa bergerak dan selalu berubah arah, tetapi pas kita cek ternyata matanya itu malah hadapnya ke kiri aja.” kata Hiro dengan jujur. Kepala sekolahnya terlihat bergeming ketika mendengar cerita tentang patung itu, “Menghadap kiri gimana, sebenarnya mata patungnya itu aslinya selalu menghadap ke kanan sejak sekolahnya didirkan.” Mendengar omongan dari kepala sekolah itu, mereka merasa takut dan teman-temannya menyadari bahwa selama ini saat menuju ke sebuah patung kemarin malam, posisi mata patung itu sudah berubah yang tadinya ke kanan malah menghadap kearah kiri. “Mending kita kesana aja deh untuk mengecek apakah itu benar.” kata kepala sekolah.

Ia mengajak bersama teman-teman Nichi dan para ibunya untuk pergi ke sekolah untuk membuktikan kebenarannya, ketika mereka menuju ke sebuah patung itu ternyata benar mata patung yang kemarin malam menghadap ke kiri, sekarang menghadap ke kanan. Mereka memutuskan memasuki kedalam sekolah dan menelusuri tempat-tempat yang dimana teman-temannya menguji nyali kemarin malam, mereka pun sampai di depan anak tangga. “Oh iya pak, ini anak tangganya gimana ya, masa pas kami ngitung anak tangganya cuman hanya 13 aja.” Kata Mikio.

“Kalian gak bakal tahu tentang jumlah anak tangga ini sebenarnya, awalnya mau direncanakan untuk menambah satu anak tangga menjadi 13. Cuman karena ada kesalahan teknis dari kontraktor maka dibuatlah anak tangga ini menjadi 12.” Kata kepala sekolah. “Coba kalian hitung anak tangganya.” Mereka menghitung kembali jumlah anak tangganya dari atas sampai bawah, ternyata benar jumlah anak tanggnya ada 12. Seorang temannya bernama Takashi bertanya kepada kepala sekolahnya. “Tapi pak, katanya air kran di ruangan lab sana warnanya berubah ya, apakah itu benar?”

Mereka pergi ke ruangan lab itu dimana teman-temannya Nichi menyalakan kran airnya, saat dicek mereka terkejut bahwa air yang keluar dari kran yang dinyalakan oleh temannya kemarin malam berubah menjadi darah, “Perasaan pas saya buka kran air kemarin malam itu cuman air biasa saja.” Mereka bergidik ngeri melihat bekas genangan darah di wastafenya. Si Ibunya Nichi bertanya kepada teman-temannya terkait keberadaan anaknya sambil khawatir, “Terus soal si Nichi gimana?”

“Terakhir ada di toilet laki-laki.” ucap Hiro. Mereka bergegas menuju ke tempat toilet dimana tempat terakhir Nichi dan teman-temannya melakukan uji nyali, begitu sudah masuk sudah mengeluarkan bau yang sangat kuat sehingga tak ada yang berani memasuki salah satu toilet yang pernah dimasuki Nichi. Ibunya Nichi memutuskan untuk memberanikan diri memasuki salah satu ruang toilet itu, pas dibuka ia terkejut mendapati genangan darah yang berceceran di lantai.

AAKKHHH!!!

Sang ibu tanpa senagaja menemukan bagian tubuh Nichi terpisah yang tergantung diatasnya serta beberapa isi organ tubuhnya yang keluar dan menumpuk diatas toilet.

3. Kapal

Fahmi

Berikutnya terjadi di tengah laut, cerita ini adalah sebuah kisah nyata dari pengalaman seorang pekerja WNI di Jepang bernama Fahmi. Cerita ini dikutip dari sebuah website Kaskus tentang pengalaman kejadian aneh yang dialami oleh Fahmi ketika di tengah badai laut.

Halo, nama saya Fahmi. Saya bekerja di Jepang sebagai pelaut di sebuah Kapal Refeer Jepang buatan tahun 1985 bernama Hitomaru, saya juga bertugas menangkap ikan-ikan laut dan saya sudah terbiasa bekerja di tengah laut sampai ke samudera. Kejadian aneh itu bermula ketika saya beserta kru kapalnya memutskan untuk pulang daratan Jepang tepatnya ke Pulau Shimizu yang waktu itu kondisi cuacanya sedang gak mendukung alias hujan deras, tiba-tiba kapal kami menerima sebuah pesan bahwa dari kapal lain. Suara pesan dari salah satu kru kapal itu mengatakan bahwa dirinya meminta butuh bantuan karena salah satu krunya ada yang meninggal karena sakit sehingga memintanya untuk menitipkan mayat krunya untuk dibawa ke daratan Jepang.

Perwira kami menanyakan lokasi kapal tersebut untuk segera pergi kesana, tetapi anehnya di radar kapal yang kami pakai tidak ada titik tanda kapal itu. Si perwira menanyakan ke kapten kami dengan apa yang terjadi? mereka melihat baru melihat sebuah kapal misterius yang tiba-tiba muncul di depannya, padahal itu gak terdektesi oleh radar sekalipun. Saya mengira mungkin radarnya saja yang rusak. Kami bersama kru lainnya pergi ke kapal itu untuk membawa jenazahnya, suasananya kok sepi ya udah gitu gelap, udah gitu kondisi kapalnya udah rusak. Si kapten kami bilang ke kapal itu untuk menyalakan lampunya agar krunya bisa menemukan dan membawa jenazahnya itu. Tetapi salah satu kru di kapal yang satu itu bilang bahwa generator buat lampunya rusak jadi harus diperbaiki dulu.

Akhirnya kapten kami memutuskan menggunakan lampu sorot untuk meneranginya, tetapi kru si kapal yang satu laginya itu meminta untuk jangan menyoroti kearah dirinya. Akhirnya kami sampai di kapal kami sambil membawa satu kantung berisi jenazah dan menyimpannya ke sebuah freezer berisi ikan laut, setelah kapal kami meninggalkan sebuah kapal dengan sendiri, tiba-tiba kami diterjang badai yang kuat sehingga kapalnya terobang-ambing. Bingung cara melewatinya gimana, akhirnya kami mulai mendiskusi untuk mengatasi hal ini dengan 2 pilihan, “Ada dua pilihan yang bika kita pilih, Apakah kita tetap terus melewati badai itu sampai ke daratan atau kita tetap stay aja disini sambil menunggu badai hilang?” tanya dari salah satu rekan kami.

Otomatis, kami memilih untuk bertahan disini selama kurang 3 hari sampai badai itu menghilang. Disinlah kejadian aneh mulai terjadi saat kami bertahan di tengah laut, di kapal kami ada sebuah ruang makan yang disitu ada sebuah boneka jepang memakai kimono dengan tatapannya yang menakutkan, gara-gara itulah saya merasa ngeri kalau mau pergi ke dapur karena ada bonek itu. Akhirnya saya dan rekan kru kami sepakat untuk memindahkan boneka itu ke ruang uks, apesnya lagi ruang uks itu ternyata letaknya bersebelahan dengan kamar kami. Malamnya saat saya tidur di kamar tiba-tiba pintunya digedor-gedor dari luar sehingga saya jadi kaget sekaligus terbangun dari tidurnya, sekarang sudah pukul setengah 12 yang artinya giliran saya bertugas untuk menjaga kapal ini. Awalnya saya kira paling itu krunya yang membangunkan saya malam-malam gini, saya pun bersiap-siap dan segera keluar dari kamarnya menuju ke ruang pos, disana sudah rekan saya yang terlihat sedang duduk sambil menunggu saya.

“Sorry bro, gua tadi kebablasan.” kata saya.

Rekan saya hanya terdiam saja dan membalas, “Gak papa kok, gak masalah. Eh gua mau ke toilet dulu ya.” ia pun memutuskan pergi ke toilet yang terletak di dalam ruangan ini dan tinggalah saya sendiri, beberapa menit kemudian yang tadinya rekan saya pergi ke toilet tiba-tiba dia muncul lewat pintu lain, tepatnya lewat pintu masuk ruangan ini. “Eh sorry ya bro, gua tadi ketiduran.” tiba-tiba saya bingung padahal dia tuh lagi ada di toilet, kenapa tiba-tiba masuk ke ruangan ini.

“Bentar deh, lu kan tadinya ke toilet yang ada di belakang gue, kok lu tiba-tiba bisa muncul lewat pintu masuk ruangan ini?” si rekannya pun bingung dari pertanyaan saya dan berkata, “Laah, gue aja baru bangun tidur dan masuk ruangan ini kok.” saya menjadi bingung sama si rekan saya ini, jadi tuh orang yang bareng sama saya yang tadi itu siapa? cepat-cepat saya langsung mengecek ke tempat toilet itu dimana dia meminta ijin ke tempat ini. Pas dibuka pintu toiletnya ternyata kosong. Kejadian serem di kapal ini gak hanya ini saja kok, masih banyak kejadian-kejadian aneh yang lainnya di beberapa bagian kapal, mulai dari mesinnya yang rusak, boneka Jepang, sampai suka dengar suara orang yang cekikian.

Sudah 3 hari semenjak ada kejadian aneh selama di kapal yang sedang terjebak, akhirnya kapal kami sampai deh di daratan pulau Jepang tepatnya di pelabuhan, disana sudah ada beberapa agen dari perusahaan yang tengah menyambut kami di sana. Kapten kami memerintahkan kepada para agent untuk menghubungi ambulan untuk membawa jenazah yang ada di kapalnya. Ketika kami segera membuka freezernya, tiba-tiba tidak menemukan mayatnya disitu. Kami bingung dan udah membongkar semua isinya tetapi tetap saja gak ketemu jenazahnya, sedangkan agen perusahaannya berusaha menenangkan kami yang terlihat panik, “Tenang saja, mayatnya gak bakalan ada lagi.”

Kami pun terkejut dari omongan santai mereka, salah satu kapten kami bertanya kepada agennya kok jadi aneh begini. Si agennnya itu pun mulai bercerita, “Kalian yang temuin kapal misterius di tengah lau itu sebenarnya Kapal Tenyu-Maru No.2 yang sudah hilang sejak dulu, kapal itu nekat menerobos sebuah badai yang persis seperti kapal kalian yang sempat ingin menerebosnya sampai ke tempat tujuan, kapal itu emang selalu muncul disaat salah satu kapalnya yang nekat menerobos ke sebuah badai. Itulah kenapa kapal kalian tuh sering mengalami gangguan aneh termasuk dari si jenazah kru Kapal Tenyu-Maru No. 2 itu, itu karena mereka memperingatkan kalian untuk tidak boleh menerobos badai sembarangan agar kalian tidak senasib sama dengan kapal misterius itu.”

Kapal Tenyu-Maru no.2
Data dan status Kapal Tenyu-Maru No. 2

4. Hitori kakurenbo

Bagi kalian yang belum tahu Hitori Kakurenbo, ini adalah sebuah permainan Jepang yang artinya bermain petak umpet. Permainan ini sudah jelas serem karena kalian akan bermain petak umpet bersama boneka yang akan ditugaskan untuk mencari kalian saat sedang bersembunyi, permainan ini juga sebenarnya kayak sebuah ritual untuk berkomunikasi kepada arwah dari dunia lain. Permainan ini emang jelas bahaya banget karena bakal mengundang resiko yang dialami oleh kalian jika memainkan ritual ini, bahkan di beberapa youtuber saja ada yang udah coba main ginian kok. Jangan berharap kalian akan selamat dari permainan itu, karena ada sebuah kisah nyata dari seorang wanita Amerika bernama Sarah yang mengalami kejadian aneh usai bermain petak umpet di Jepang bersama temannya, Akane. Ceritanya sendiri ia tulis di sebuah blog yang bernama Black-Cat-Loki, Sarah juga memperingatkan kepada kalian untuk jangan bermain Hitori Kakurenbo ini karena kalian akan ditanggung sendiri resikonya.

Sebelum membaca harap berdoa dulu ya karena beberapa ceritanya ini agak mengganggu dan kuusahakan bacanya jangan dibawa serius.

Akane dan Sarah

Namaku Sarah, aku adalah seorang pelajar yang sedang mengikuti perogram pertukaran pelajar di Jepang, kebetulan aku sendiri tinggal di homestay bersama Keluarga Akane. Suatu hari orangtua Akane pergi untuk menjenguk sepupunya yang baru melahirkan sehingga kami tinggal dirumah, kami ingin mencari hiburan agar tidak merasa bosan sepanjang hari dan akhirnya dapat ide nih mau main permainan petak umpet bernama Hitori Kakurenbo. “Eh, bagaimana kalau kita main petak umpet bareng boneka?” usulku.

“Tapi kan kita gak punya boneka.” kata Akane.

“Beli lah, yuk kita belanja bareng-bareng.” akhirnya aku mengajak Akane pergi Hyakuen Shop untuk membeli sebuah boneka anak kecil yang digunakan untuk bermain, usai beli boneka akhirnya kami memutuskan pulang ke rumahnya untuk menyiapkan bahan-bahan yang akan dipakai buat main nanti malam. Malamnya, aku bangun jam pukul 3 pagi dan bergegas ke kamar Akane yang letaknya berseberangan dengan kamarku. “Akane, bangun.” aku mengetok pintu kamar Akane dengan keras supaya dia kedengeran, tak berapa lama Akane keluar dari kamarnya dalam kondisi yang masih mengantuk. “Hmm.. Ada apa?”

“Ayolah, katanya mau main petak umpet.” seruku.

Akane melirik kearah jam dinding sebentar dan sekarang sudah pukul 3 pagi, “Kau serius main ginian malam-malam gini?”

“Ya iyalah, aku sudah siapkan barang-barangnya nih. Ayo ikut!” akhirnya kami bersiap-siap pergi ke kamar mandi sambil membawa boneka yang sudah beli kemarin, Sarah memotong perut bonekanya dan mengeluarkan isi-isi busanya dan digantikan oleh berisi beras, dan darah kami untuk memasukkan ke dalam isi boneka. Usai mengisi tubuh bonekanya yang kemudian menjahitnya, kami memulai menyanyikan sambil menusuk bonekanya menggunakan pisau. “Akane dan Sarah main pertama.” kami terus mengulangi nyanyiannya sambil menusuk-nusuk bonekanya, tak lupa kami menamai bonekanya bernama Erina. “Erina yang kedua!” seru kami.

Kami pun kabur dari kamar mandi ke lemari di ruang tengah sambil membawa sebuah pisau dan garam untuk berjaga-jaga, sedangkan bonekanya dibiarkan tinggal di kamar mandi agar bisa menemukan kamu. Kami berhimpi-himpitan di dalam lemari dan berusaha untuk tidak berisik, tak berselang lama tiba-tiba salah satu Tv di ruang ini menyala sendiri dan beberapa kali ganti channel dengan suaranya yang jelek, kami mengintip tv itu lewat celah lemarinya dan tiba-tiba muncul sebuah kalimat di salah satu channelnya dengan bertuliskan.

AKU AKAN MENEMUKAN KALIAN.

Tok Tok Tok!

Tiba-tiba kami mendengar suara langkah kaki yang menuju ke arah kami, kami mulai ketakutan dan berusaha untuk tidak bersuara. “Dimana kalian?” suara itu terdengar sambil mencari-cari kesana-kemari, “Apakah kalian ada disitu?” Kami mulai panik dan ketakutan ketika boneka itu semakin mendekat kearah kami, berusaha bersikap tenang dan berharap agar boneka itu segera pergi meninggalkan kami. “Itu mereka!” tiba-tiba kami menjerit mendengar suara itu sehingga pisau yang dipegang Akane, tanpa senagaja menusuk matanya karena saking kagetnya mendengar suara misterius itu, Dia histeris merasakan sakitnya yang luar biasa dengan matanya yang terkena tusukan pisaunya sehingga membuat matanya seperti tercongkel keluar. Saking histerisnya garam yang ada di mulut dia untuk menyemburkan bonekanya tertelan sendiri sehingga ia keselek. “Cukup permainannya, kita harus akhiri permainan ini.” Kami keluar dari lemarinya dan kembali menuju ke kamar mandi untuk mengambil boneknya, dengan cepat kami membawa bonekanya ke luar rumah dan menyeburkan bonekanya itu dengan garam dari mulutku kemudian membakarnya sampai hangus.

Sedangkan Akane hanya bisa menahan sakit di salah satu matanya yang kena pisau sambil menangis, sedangkan aku terus menenangkannya. “Tenanglah, Akane. Permainannya sudah habis, sekarang hantu itu sudah pergi.”

Besoknya, aku masih merasakan aura negatif di Rumah Akane, perasaanku sudah mulai gak enak usai bermain petak umpet di malam hari. Akane yang tadinya ceria tiba-tiba jadi pendiam dan suka mendekam diri di kamar, aku khawatir dengan keadaan temanku sekaligus merasa bersalah. “Akane gak apa-apa? mau aku temenin ke kuil nggak?” Akane diam saja tanpa jawaban, ia hanya bisa menggeleng saja karena menolak tawaranku untuk pergi kesana. Malamnya, aku kaget mendengar suara ketukan kaki di lorong kamar serta pintu kamarnya dicakar menggunakan kuku panjang, aku beranjak dari tempat tidurnya dan keluar dari kamarnya. Tiba-tiba aku kaget mendapati sebuah tulisan darah simbol kanji 死 “Shin” di pintunya yang artinya kematian. Akane juga keluar dari kamarnya dan juga melihat kanji itu, tetapi wajahnya terlihat sangat datar.

“Tulisan apa ini, apakah hantunya belum pergi juga?” kataku sambil panik melihat tulisannya yang terlihat mengerikan, “Akane, besok kau harus ikut dengaku pergi ke kuil.” ucapku. Akane terdiam yang kemudian menatap sinis. “Oh, sekarang sudah mulai ya?” ia tersenyum sinis kearahku yang membuatku bergidik. Di tangannya terdapat sebuah luka iris yang entah darimana ia terkena luka itu, “Akane, lukamu kenapa?” tanyaku.

Akane merasa tersinggung melihatku dan tiba-tiba ia memarahiku dengan suara yang lancang. “Diamlah, menjauhlah dariku!!” Akane masuk ke kamarnya sambil membanting pintunya dengan keras. Aku kaget melihatnya dan heran kenapa akhir-akhir ini Akane terlihat jadi aneh. Setelah kejadian itu, aku pergi ke sebuah kuil dalam keadaan tidak enak badan dan merasa pusing akibat kemarin malam. Tanpa sadar aku pingsan di tengah jalan dan selama 8 jam akhirnya aku bangun yang kini sudah berada di dalam kuil. Pendeta kuil itu menghampiriku sambil memberikan sebuah jimat dan diadakan upacara pembersihan, “Anda baik-baik saja?” kata seorang pendeta. Sedangkan aku hanya menggeleng pelan saja.

“Saya tahu kamu pasti habis bermain ritual petak umpet itu kemarin malam,” aku kaget mendengar omongan dari pendetanya yang ternyata ia tahu bahwa aku dan Akane habis bermain petak umpet bersama Boneka Erina 2 hari yang lalu. “Permainan itu sebenarnya adalah ritual, itu bahaya sekali bagimu. Sebaiknya jangan memainkan ritual itu lagi.” ucapnya sambil memberikan sebuah jimat kepadaku, ia terlihat curiga kalau Akane sudah dirasuki oleh hantu Erina yang ada di boneka kemarin malam. Aku memutuskan untuk pulang ke rumahnya dan orangtua Akane tidak ada dirumahnya karena mereka masih di rumah sepupunya, aku iseng-iseng mengintip kamar Akane dari bawah untuk melihat kondisi Akane yang masih terus mengurung diri. Aku pergi ke kamar Akane dan langsung menaburkan garam serta membakar dupanya di depan pintu kamarnya agar ia merasa terlidungi dari hantu jahat, aku juga memutuskan untuk berhenti ikut program pertukaran pelajar Jepang dan ingin pulang ke Amerika karena merasa sangat bersalah akibat bermain petak umpet konyol itu.

Aku memutuskan untuk menulis di blognya dan bercerita ingin pindah ke keluarga kenalannya yang ada di Kota Chiba agar diriku bisa aman bersama mereka. Paginya, aku kaget melihat pintu kamarku dipenuhi oleh tulisan darah kanji  死 “Shin” (kematian), belum lagi ada sebuah jejak darah yang memanjang di sekelilingnya yang seolah-olah memberi sebuah petunjuk ke tempat sesuatu. Aku mengikuti jejak darah itu hingga sampai di ruang tengah tepatnya sebuah lemari yang dimana aku dan Akane bersembunyi disitu, terdengar ada suara orang yang sedikit memilukan di didalam lemari itu. Saat kubuka lemarinya, aku menemukan orangtua Akane dalam keadaan kondisi ketakutan dan matanya terlihat tercongkel persis seperti yang dialami Akane. “Kumohon, jangan bunuh kami, Akane…Kami orangtuamu.” aku kaget melihatnya dan berusaha menenangkan mereka yang masih terlihat menangis dan ketakuta. “Tenang pak, bu. Ini saya Sarah.”

“Di…dia ada di belakangmu.” tiba-tiba badanku merasa kaku dan merasa merinding, seketika aku menengok kebelakang dan mendapati Akane yang sudah berdiri mematung di belakang pintunya, matanya sudah robek sehingga hampir keluar disertai badannya yang berlumuran darah, ia datang sambil membawa pisau untuk menyerang kearah kami. Matanya terlihat berputar-putar di kepalanya sambil tersenyum menyeringai “Sayang sekali aku tidak menemukan kalian!” Dengan refleks, aku menghindar sambil membawa kedua orangtuanya dari serangan Akane. Kami berlari keluar rumah dan memebiarkanAkane di dalam rumah, kami pun memutuskan pergi ke kuil untuk meminta bantuan kepada para pendeta. Dan menelpon ambulans untuk membawa orangtua Akane ke rumah sakit agar bisa mendapat perawatan, kemudian aku juga menelpon ke sepupunya Akane yang habis melairkan. “Halo bibi, ini Aku Sarah, temannya Akane. Tolong anda harus selamatkan bayi anda, orantuanya diserang Akane.”

Bibi yang mendengari kabar dariku tiba-tiba terkejut dan menangis sesenggukan. “Ada apa, bi? Apa yang terjadi?” tanyaku.

“Hikss… hikkks, Erina..” ucapnya yang masih terpotong-terpotong.

“Ada apa dengan Erina?”

“Anakku… Anakku… sudah meninggal sejak dua hari yang lalu akibat demam pada malam hari.” Aku kaget setengah mati mendapati kabar buruk dari sepupunya Akane, ternyata Erina si boneka yang kumainkan itu ternyata nama si bayi sepupunya yang sudah meninggal setelah dilahirkan. “Sebaiknya kau cari tempat yang aman saja agar bisa terhindar dari ancaman Erina.” ucapnya dengan parau. Aku memutuskan untuk pergi ke tempat keluarga kenalanku di Kota Chiba untuk berlindung dari ancaman teror dari Erina, malamnya aku mendapati panggilan telepon dari hpku dan kupustkan menerima teleponnya. “Halo, apa anda Sarah? ini saya pendeta.”

“Iya pak, ada apa ya?” ucapku.

“Saya memberi kabar ke anda bahwa keluarga Akane kini sudah berada di rumah sakit, maafkan kami juga karena kami tidak bisa menyelematkan Akane karena jiwanya sudah diikat oleh roh Erina, meskipun Erina sudah tidak kerasukan lagi tetapi jiwa dan keturunannya akan dikutuk sampai ke 4 generasi.” Jelasnya di sambungan teleponnya. Jujur aku merasa sedih dan kasihan melihat kondisi mereka, diriku merasa bodoh akibat telah memainkan permainan itu yang terkutuk sehingga resiko dan ancamannya ada di tangan mereka. Besoknya, aku pergi menjenguk mereka di rumah sakit untuk mengakui kesalahannya yang membuat keluarga Akane menjadi terancam, kini mereka terbaring di rumah sakit dengan tubuhnya ditutupi oleh beberapa perban. “Saya minta maaf telah menyakiti keluaraga anda.” ucapku sambil sedikit menunduk.

“Tidak apa-apa, kami terima maafmu. Maafkan kami juga jika homestaynya terlalu buruk yang membuat tidak nyaman untukmu.” balasnya sambil tersenyum lembut, keluarganya menerima permintaan maafku sambil menenangkannya. Kecuali si Akane yang masih terdiam saja sambil berbaring di ranjang tanpa mengeluarkan kata sedikitpun, usai menjenguk keluaraga Akane tiba-tiba sebuah notifikasi komentar blog di hpku. Saat kubuka pesannya sontak membuatku merinding membacanya.

AKU BAIK-BAIK SAJA, HAHAHA

JANGAN KHAWATIR, SEMUA ORANG DISNI BAIK-BAIK SAJA.

BETAPA MENYENANGKANNYA PERMAINAN YANG MENARIK INI BUKAN ?

KIRA-KIRA SIAPA LAGI YAA ORANG YANG BERIKUTNYA, HAHAHA

AKU MENEMUKANMU

Photo by Lucas Pezeta on Pexels.com

Aku kembali ke rumah Akane dalam kondisi yang linglung, entah kenapa tiba-tiba aku ke tempat itu lagi? bukannya aku dilarang datang kesini lagi ya demi keselamatan diriku. Di perjalanan kereta, aku merasakan sangat pusing sekali dan tak sanggup menyeimbangkan badanku lagi sehingga aku pingsan di tempatnya. Dan aku mulai sadar lagi yang kini diriku berada di tempat kuil lagi.

“Sepertinya kamu merasa digangguin lagi sama roh Erina, kami sudah usir hantu itu dan anda merasa aman disini.” ujar pendetanya.

Setelah badanku pulih, aku pergi ke rumah sakit lagi untuk menjenguk keluaraga Akane. Aku melihat kondisi Akane yang kini matanya diperban sedangkan tangan dan kakinya diborgol di ranjangnya agar ia tidak bisa berontak di ruangannya. Tiba-tiba sebuah pesan notifikasi dari blog muncul lagi di Hpku dan segera kubuka isinya.

KAU BISA BERLARI, TAPI TIDAK WAKTU YANG LAMA.

Dua minggu kemudian, aku sibuk bolak-balik ke berbagai tempat mulai dari kantor polisi, kuil, dan Rumah Akane untuk pembersihan mereka dari ancaman hantu Erina. Kini, aku bisa bebas dan memutuskan pulang ke Amerika sambil melupakan kejadian mengerikan selama di Jepang. Sedangkan Akane diseret ke pengadilan untuk memberikan sebuah pengakuan terkait penyerangan kepada orangtuanya sendiri, orangtuanya terus membela ke anaknya bahwa Akane tidak merasa bersalah. Tetapi malah Akane mengakuinya bahwa dirinyalah yang berusaha untuk memebunuh orangtuanya, padahal aslinya Akane enggan mengakui kesalahannya itu melainkan roh Erina yang masih bersemayam di jiwanya Akane, mengontrol jiwa Akane untuk mengakui kesalahannya.

Well gimana? kalian merinding gak nih. Yuk tarik nafas dulu sebentar dan tenangkan pikiran kalian juga ya, itu saja sih dari 3 cerita horor yang sudah diceritain dari Kak Dimas. Gak hanya cerita tentang horor Jepang aja kok, selama di tour online juga ditayangin berbagai video penampakan hantu Jepang yang tak kalah horor daripada cerita yang diatas itu karena videonya itu menampilkan hantu-hantu asli yang ada di Jepang.

Bagi kalian yang ingin kepo sekali ikut virtual tour, jangan lupa follow dengan klik tautan virtual.guide ini dan pantengin terus update-update jadwal tour yang akan segara datang dan berbagai macam info-info menarik tentang berbagai negara yang selalu dibahas di Virtual Tour Guide.

Kira-kira cerita mana nih yang paling seram menurut kalian ?

47 tanggapan untuk “Kisah Horor Jepang bersama Dimas Setiaboedi

  1. Hwkakakakaka… sebagai tipe visual macam aku. Membaca seperti ini tentu berkelebatlah visualisasinya. Oh Nooooo!!!.

    Tapi, menarik sih. Horor selalu memikat bagi sebagian orang.

    Sejak awal padahal sudah di ingatkan ya.
    Jadi auto cari tempat terang hahaha..

    Tournya bikin penasaran.

    Suka

  2. Ampun deh kak Alya nih, baru juga baca tulisan merah di atas udah auto merinding, huhu..
    Menilik dari film-film horor Jepang memang serem-serem sih liat makhluknya. Duh, mana pas tengah malam lagi BW ke sini >.<

    tapi seru juga ya, baru tau aku ada virtual horor gini, eh tapi nonton nya harus rame-rame :3

    Suka

  3. Jepang tuh paling bisa bikin cerita horor. Jadi ingat sama film2 horor dari Jepang yang selalu bikin nggak bisa tidur. Eh sekarang harus baca cerita horor pas malam jumat pula. Keknya habis ini aku kudu nonton yang lucu2 biar ceritanya nggak kebawa mimpi wkwk.

    Suka

  4. Yes, untung bacanya habis Subuhan. Jadi tidak bikin merinding kwkwk. Aku sampe kepo lhoh kak ke bang Dimas yang ternyata punya biro travel virtual. Pengen travelling ke Jepang, tapi nggak yang horor jugaaaa haha

    Suka

  5. Saya sih lebih seram dengan cerita di sekolah. Nggak tahu kenapa setiap ada cerita horor dengan latar sekolah lebih menyeramkan daripada kapal atau tempat lainnya. Mungkin karena dekat dengan keseharian kali ya

    Suka

  6. Hiks ceritanya lebih seram ketimbang sebuah film. Ini bisa jadi cerpen horor yang bisa diterbitkan. Banyak backround dari cerita seram.

    Suka

  7. Bacanyaa jadi merinding. Hantu di Jepang lumayan nyeremin dibanding Hantu Bule. Lumayan bikin takut sih. Soalnya ada faktor kedekatan budaya timurnya

    Suka

  8. Sdh lama nih ga baca buku horor atau nonton film horor. Baca ini jadi imajinasiku ke mana2 haha.. untung bacanya pagi nih. Film2 horor jepang tuh serem parah, tnyata cerita horornya jg serem parah.

    Suka

  9. ngeri ngeri sekali ceritanya, bacanya agak cepet tapi penasaran jadi balik lagi, hahaha untung aku bacanya siang hari ini jadi nggak terasa terlalu menyeramkan tapi tar malam pasti kebayang deh, haduhhh

    Suka

  10. Ampun sereemm banget yaa k ini horror semua lho. Aku bacanya lagi ramai syukurnya hehehe kalau ngga bisa deg deg-an juga. Menarik banget baru ini ketemu blog cerita horror semua heheheh. Sukses k.

    Suka

  11. OMG seremnya kejadian di toilet tapi dalam dunia nyata Kan banyak juga kejadian gini ya. Aku demen nih yang model model cerita gini hahahaha pun Ada kalanya kalau sikon nggak pas takut juga huahahhaha.

    Suka

  12. Wadaaaawww cuma berani baca 1 cerita aja. Gak berani lanjut ke cerita berikutnya. Piliran aku langsung jalan-jalan bayangin yang serem

    Suka

  13. seruuu!
    pandemi memunculkan ide virtual tour bahkan khusus untuk tempat horor!
    walau daring, efek bergidiknya tetap terasa ya
    aku sendiri skip aja hahaha karena ini tengah malam dan enggak mau kepikiran

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s