Perempuan Pemimpin dan Kesetaraan Gender bersama Kemendikbud

Empat hari yang lalu tepatnya tanggal 8 Maret adalah hari yang paling istimewa khusunya umtuk perempuan, yaitu Hari Perempuan Internasional. Menurut aku hari ini adalah hari para perempuan yang dimana menunjukkan bahwa perempuan itu sangat tangguh dan sama-sama kuat untuk berjuang melawan ketidakadilan dalam masalah kesetaraan gender. Perempuan juga bisa menjadi pemimpin yang baik dan berani melawan resiko serta rintangan yang terus dihadapinya.

Sebagai perempuan aku merasa bersyukur bahwa aku ini masih kuat dan mampu menentukan pilihan hidup serta ingin mempunyai kemamuannya sendiri.

Kebetulan tepatnya di Hari Perempuan internasional kemarin aku mengikuti sebuah seminar online yang diselenggarakan oleh Kemendikbud dan Cerdas berkaratker yang mengangkat tema “Perempuan Pemimpin dan Kesetaraan Gender”. Seminar ini sangat istimewa bagi aku karena acara ini menampilkan narasumber-narasumber dari wanita inspiratif seperti Bu Franka Makarim (Co-Founder Tulola Jewelry), Bu Angkie Yudistia (Staf Khusus Presiden RI), Bu Chatarina Muliana (Inspektur Jenderal Kemendikbud RI), dan Pak Nadiem Makarim (Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI). Sedangkan acara seminarnya dipandu oleh moderator bernama Bu Widya Saputra.

Pak Nadiem Makarim

Sebelum menuju ke acara Talkshow bersama 3 wanita inspiratif, seminar ini diawali oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim, yang memulai pengantar kata di awal seminar tersebut. Pak Nadiem Makariem menjelaskan tentang sejarah Hari Perempuan Internasional secara singkat dan menarik, lebih dari 1 abad yang lalu serikat Buruh Garmen perempuan dari New York, AS, menyeruakan aspirasi mereka untuk bisa mendapatkan upah yang layak dimana hari itu adalah aksi yang dilaksanakan oleh para perempuan tersebut.

Pada tanggal 8 Maret 1857, diperingati sebagai Hari Perempuan Internasional yang dimana semangat perjuangan para perempuan juga ditunjukkan kepada perempuan Indonesia. Dalam menggugat terkait masalah ketimpangan dan ketidakadilan soal gender disekitarnya, perempuan Indonesia juga mampu bersekolah ke jenjang yang tinggi seperti karier di ranah publik, memimpin dalam berkeluarga & rekan-rekan kerjanya.

Demikian bukanlah perjuangan itu telah usai, tidak. Sebaiknya perjuangan kita masih panjang.

Nadiem Makarim

Menurut Pak Nadiem Makarim, ada 3 dosa besar dalam pendidikan yang harus dicegah, yaitu intoleransi, kekerasan seksual, dan perundungan. Dari 3 masalah itu harusnya tidak terjadi secara terulang di dunia pendidikan, masalah tersebut sering sekali dialami oleh para perempuan. 3 masalah itulah yang mempengaruhi tumbuh kembang pelajar. Kemendikbud terus berupaya mendorong lingkungan belajar yang aman bagi pelajar perempuan yang berdasarkan ketetapan Perkemendikbud No. 82 tahun 2015 tentang pencegahan dan penanggulang tindak kekerasan di lingkungan satuan pendidikan, mulai dari SD sampai menengah.

Saat ini Kemendikbud sedang merencanakan rancangan pencegahan kekerasan dan seksual di perguruan tinggi, peraturan pendidikan menteri untuk pendidikan tinggi dan mekanisme tersebut akan dirancang dengan penuh kehati-hatian serta penuh pertimbangan, agar pelaksanaannya berjalan secara tetap dan sesuai dengan harapan.

“Lingkungan belajar yang kondusif dan mendukung bagi perempuan, mulai dari sekolah, dirumah, tempat kerja, dan perguruan tinggi. Akan mendorong kemunculan yang lebih banyak perempuan pemimpin di masa depan.” Kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Dengan kecerdasan dan berkarakter umum, momentum di Hari Perempuan Internasional menjadi pengingat bahwa perjuangan menuju kesetaraan gender sebenarnya masih panjang dan membutuhkan gotong royong untuk mewujudkannya.

Marilah terus mempertahankan semangat Hari Perempuan yang terus hidup selama lebih dari 1 abad, untuk Indonesia secara bersama.

Nadiem Makarim

Usai menyimak pengantar kata dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, acara tersebut berlanjut ke sesi talkshow bersama 3 wanita Inspiratif, yaitu Bu Franka Makarim (Co-Founder Tulola Jewelry), Bu Angkie Yudistia (Staf Khusus Presiden RI), dan Bu Chatarina Muliana (Inspektur Jenderal Kemendikbud RI), acara talkshow ini langsung dipandu oleh moderator, Bu Widya Saputra.

Sebelumnya aku kenalin dulu nih sama 3 wanita hebat ini, yang pertama ada Bu Franka Makarim, beliau merupakan Co-founder Tulola Jewelry yang pernah mengawali pendidikan di :

  • Hogeschool Rotterdam, International Bussiness and Development Studies.
  • Northumbria University BA (Hons.) Marketing and management.
  • Rafless Design Institute BA (Hons.) Bussiness and Fashion in fashion and retail.

Bu Franka Makarim juga punya berbagai pengalaman yang pernah diikuti seperti Spouse of the Minister of Education & Culture The Republic of Indonesia (2019- sekarang), dan menjadi Chief Executive Officer, Tulola Design (2019-sekarang).

Terus ada juga Bu Catharina Muliana yang beliau seorang Inspektur Jenderal Kemendikbud RI, yang pernah mengawali pendidikan di :

  • S1 Hukum – Universitas Brawijaya (1995)
  • S1 Akuntansi – STIE YAI Jakarta (1997)
  • S2 Hukum – Universitas Padjajaran (2007)
  • S3 Hukum – Universitas Airlangga (2019)

Bu Catharina Muliana juga punya berbagai pengalaman yang pernah diikuti seperti Inspektur Jenderal Kemendikbud (Sekarang), Plt. Staf Ahli Mendikbud Bidang Regulasi Pendidikan dan Kebudayaan (Juli 2020- sekarang), Staf Ahli Mendikbud Bidang Regulasi Pendidikan dan Kebudayaan (2015- Juli 2019), dan masih banyak lagi pengalaman yang pernah diikuti oleh Bu Catharina Muliana.

Terakhir ada Bu Angkie Yudistia yang beliau merupakan seorang Staf Khusus Presiden RI dan penyandang distabilitas tunarungu. Bu Angkie Yudistia pernah mengawali pendidikan di :

  • SMA 2 Bogor
  • Ilmu Komunikasi. London School of Public Realitions.

Bu Angkie Yudistia mempunyai macam pengalaman yang pernah diikutinya, seperti Staf Khusus Presiden RI, gugus inovasi – Komunikasi publik , Pendiri Thisable Enterprise, Socio-preneur dalam pemberdayaan teman-teman penyandang distabilitas, dan Meluncurkan 3 buah buku berjudul Perempuan Tuna Rungu Menembus Batas, Setinggi Langit, dan Become Rich As A Sociopreneur.

Berikut inilah berbagai macam pertanyaan dari Bu Widya Saputra :

Widya Saputra

1. Jika mendengar konsep superwoman, apa pertama kalinya terlintas di benak kalian?

Bu Franka Makarim

Menurut Bu Franka, seseorang yang menyadar di dalam diri sendiri bahwa kita semua bisa melakukan apa yang kita inginkan. Ia berkata bahwa dirinya berterima kasih kepada sang ibu yang telah membesarkannya sejak ayahnya sudah meninggal ketika Bu Franka berumur 9 tahun. Dan juga kepada eyangnya yang meskipun sudah berumur tetapi masih aktif dalam berorganisasi, kerja wanita inilah di dalam Bu Franka yang memberikan contoh bahwa “kita bisa melakukan apa-apa yang kita mau dan apa yang harus dilakukan karena sebuah tanggung jawab yang ada, baik di rumah bersama keluarga maupun memberikan dampak atau suatu nilai kepada masyarakat disektiranya.” ucap Bu Franka.

Bu Catharina Muliana

Menurut Bu Chatarina, seorang wanita yang dapat melakukan hal apa saja dan dimana posisinya saat ini, memiliki sikap percaya diri bahwa bisa melakukan apa yang diinginkan atau dicita-citakan. Sehingga dapat melaksanakan tugas yang menjadikannya sebagai tugasnya, karena seorang perempuan dikarunai oleh Sang Pencipta dapat melakukan segala hal yang bersamaan. “Saya yakin perempuan itu dapat bisa menjadi apa saja dan apa yang diinginkan atau dicita-citakan.” ucap Bu Catharina.

Bu Angkie Yudistia

Menurut Bu Angkie, kepribadian seorang perempuan dapat terlihat dari caranya menjalani hidup. Semakin perempuan itu bisa menjalani hidup sesuai dengan perannya, bagaimana milenial bisa menjadi diri sendiri itu sudah superwoman banget. Karena milenial sekarang merasa terdistrak teknologi-teknologi yang gampang menemukan informasi dan biasanya suka membandingkan-membandingkan orang lain. Menjadi superwoman yang percaya terhadap diri sendiri, kemampuan diri sendiri sudah paling superwoman. “Karena untuk saya sendiri agak sulit, jika berhasil mencintai diri sendiri apa adanya serta menjadi super.” ucap Bu Angkie.

2. Bagaimana menjalankan perempuan ditengah seperti hari perempuan, apa sih sebenarnya yang dilakukan secara konkrit kalau dilihat dari kacamata urgensi sekarang itu ada di indonesia ?

Menurut Bu Franka, misalnya kita mengingat hari perempuan harus penting dibahas atau sebagai diskusi, hari-hari yang sangat baik, gak hanya untuk perempuan saja tetapi juga untuk laki-laki. Mengingat bahwa kita harus mensupport dan memberikan dukungan kepada wanita yang ada di diri kita, banyak sekali seperti research penelitan untuk melihat dampak suatu peran wanita yang semakin maju dalam keluarga serta dalam komunitas dan masyarakat. “Kita bisa saling percaya bahwa dimana kita bisa mendukung satu sama lain, baik perempuan maupun laki-laki adalah sesuatu yang baik bagi kesejahteraan bersama.” ucap Bu Franka.

Bagaimana sih cara membagikan waktu antara keluarga & menjadi pemimpin ?

Kata Bu Widya, Bu Catharina sudah menjelaskan bahwa kita ini adalah perempuan, kita bisa melakukan multitasking dan bisa melakukan hal dalam waktu secara bersamaan. Apa yang ingin disampaikan bahwa sudahlah, janganlah menanyakan hal itu dan yakin kita pasti bisa, semua bisa, dan menjadikan peran sebagai pengurus keluarga, tetapi bisa berdaya sesuai perannya masing-masing.

Kalau menurut Bu Catharina sekaligus berdasarkan pengalamannya, ketika sudah berada di rumah maka ia melepaskan semua jabatannya yang ia punya dan memerankan sebagai istri & sebagai anak. “Sejak awal menikah pun saya kerjanya bukan yang first time seperti pulang jam 5 sore atau lembur. Kerja yang overtime, jadi memang mungkin karena mendapatkan seorang suami yang mendukung seperti saya mampu untuk berkarier dalam bekerja dan peran di kementerian atau lembaga dalam. Saat ini dengan adanya teknologi yang ada, walaupun jaraknya bertemunya juga sulit kalaupun sedang dinas, itu tidak menjadi hambatan lagi seperti video call atau bisa kapapun berkomunikasi atau mengabari. Gak terasa jauh dibandingkan kalau misalkan gak punya Hp dan jadinya teknologi bisa membantu untuk mendapatkan kembali meskipun jaraknya jauh.” kata Bu Catharina sambil bercerita.

Bagaimana yang paling sulit menekankan terhadap peran perempuan, apalagi distabilitas di indonesia itu seperti apa ?

Menurut kata Bu Angkie, yang paling sulit adalah perspektif orang terhadap perempuan itu sudah berbeda apalagi penyandang distabilitas. Itu merupakan sesuatu yang awalnya merasa gak nyaman tetapi lama kelamaan sebagai penyandang distabilitas perempuan itu adalah predikat yang hidup di bawa.

“Siapa sih yang merasa dirinya dicap sebagai distabilitas, saya saja setiap hari harus menggunakan alat bantu dengar, ini aja sudah kesulitan karena semuanya terbatas.” ucapnya sambil melepaskan sebuah alat bantu di telinganya sambil menunjukkannya. Bu Angkie menjelaskan bahwa sebagai perempuan pasti dihadapi pilihan, mau menyerah atau optimis? kalau mau pilih menyerah berarti itu adalah hak setiap orang, sayangnya kalau memutuskan menyerah begitu saja karena hidup kita ini hanya satu kali saja bagaimana?

“Bisa menjalani proses seutuhnya, gak papa kalau distabilitas tetapi setidaknya kita bisa ikut berperan serta sama seperti lainnya, kenapa semenjak ada teknologi ini karena apa yang diomongin itu bisa terlihat disini.” ucap Bu Angkie sambil menunjukkan sebuah aplikasi Transcribe di laptopnnya. Jadi, tantangan teknologi seperti virtual menurut Bu Angkie adalah bukan berarti kita gak bisa produktif, tantangan bagi penyandang distabilitas adalah disaat kita sedang terbatas kita haru punya minset bagaimana untuk bisa beradaptasi dengan setiap keterbatasan yang kita miliki.

3. Soal ngomongin tentang relasi terhadap perempuan, Bu Franka sering melihat tangar seperti “women is superwomen”. Pengejaran tahan asli itu apakah sudah seperti itu ?

Menurut Bu Franka, di indonesia atau tempat lain di seluruh penjuru dunia semakin banyak betul-betul dukungan antara wanita untuk mengambil pilihannya, saat kita membicarakan kesetaraan gender, bagaimana sih kita harus betul memilih kebebasan untuk mengambil pilihan sendiri. Seperti penjelasan dari Bu Catharina tadi bagaimana sih perempuan dalam keluarga sebagai ibu atau isti, tetapi kita juga punya tanggung jawab sebagai karyawan atau tokoh publik misalnya.

“Ini kan sebenarnya sama dengan laki-laki, mereka juga punya istilah tanggung jawab kepada keluarga dan tanggung jawab terhadap pekerjaannya, sehingga yang semoga bisa dilakukan dan juga bisa dibantu oleh pihak sektor pekerja serta pemerintahan adalah bagaimana kita bisa membangi tanggung jawab di rumah dan kita membagi tanggung jawab ekonomi yang sudah terjadi dalam pekerjaan.” Kata Bu Franka.

4.Bagaimana caranya mendorong untuk memberikan virus-virus supaya perempuan itu mungkin lebih berani untuk menjadi pengambil keputusan penting, untuk menjadi pemimpin di skala yang paling kecil seperti organisasi?

Menurut Bu Catharina, yang pertama adalah membangun kepercayaan diri kita dulu, sehingga memimpin suatu keberanian untuk berperan dan harus menyadari bahwa kita pun juga bermanfaat bagi sesama kita. Apa peran yang bisa kita ambil yang dapat bermanfaat bagi sesama di lingkungan kecil, baik sekolah atau lingkungan kelas. Pertama yang paling penting adalah suatu kepercayaan diri, keberanian, dan juga punya passion/empati kepada sesama.

Manusia itu bermanfaat bagi sesama dan dimana itu berada dia harus menjadi yang dapat membantu sesama serta dapat berperan positif. Itu yang penting harus dibangun oleh anak-anak perempuan. “Saya ini dari keluarga yang memiliki anak perempuan banyak dari satu sampai empat, sehingga dari kecil saya sudah mendidik kami untuk berani dan terus maju meskipun kami adalah perempuan. Jadi kami tidak perlu ragu sepanjang kamu melakukan suatu hal yang benar.” Kata Bu Chatarina.

5.Pengalaman terakhir sebagai Staf khusus presiden RI, Apakah ada curahan hati dari perempuan muda indonesia yang mungkin mengalami perundungan, pelecehan, atau mengalami hal apapun yang seharusnya itu terjadi hanya karena stigmanisasi perempuan?

Menurut kata Bu Angkie, masalah stigma perempuan itu sudah sering terjadi di kehidupan perempuan, jangankan stigma perempuan stigma distabilitas, itu malah sering terjadi oleh siapapun tanpa melihat latar belakangnya.

“Saat aku masih kecil memang sudah mengalami banyak stigma bahwa ‘kamu itu gak mampu’, ‘kamu itu kan distabilitas’, ‘Kamu itu bisa apa?’. Stigma-stigma itu memang sudah menempel sejak jaman dulu, sebagai perempuan penyandang distabilitas gak bisa apa-apa. Beruntung aku berada di lingkungan keluarga yang sangat suportif.” ucap Bu Angkie sambil bercerita. Bu Angkie juga berkata bahwa anak yang hebat tumbuh dari orang tua yang sama-sama hebat, ia merasa beruntung dari didikan orangtuanya termasuk sang ibu. Yang selalu bilang kamu sebagai perempuan tidak masalah kalau terbatas, tetapi harus tunjukkan kepada orang lain bahwa kamu itu mampu yaitu dengan cara sekolah setinggi-tingginya mungkin selama kamu bisa.

“Itulah kenapa orangtua selalu mendorongku supaya pendidikanku semakin tinggi.” ucap Bu Angkie.

6.Apakah Bu franka pernah mengalami perundungan, dipincingkan sebelah mata atau understigmatize. pengalaman apa yang “hei, sekarang malah membuktikan! Now saya tidak seperti dan sekarang menjadi perempuan yang membuktikan bahwa saya berdaya”?

“Kebetulan saya disekolah pernah merasakan perundungan dan pada saat itu adalah sesuatu hal yang menyakitkan karena saat lagi mencari teman apalagi jati diri semakin banyak, itu adalah sesuatu yang benar-benar melukai dan dampak efeknya itu jangka panjang. Menurut saya, saya beruntung karena waktu itu belum ada yang namanya cyberbullying.” kata Bu Franka sambil bercerita.

Kata Bu Franka jika itu ada istilah cyberbullying, efeknya akan jauh lebih menyakitkan dan bagaimana itu cara kita untuk menanggapi hal-hal ini. “Ini adalah sesuatu yang bisa disaat pendidikan menjadi lebih tinggi, isu cyberbullying semakin besar. Nilai kita sendiri dalam keluarga itulah yang akan membantu kita menghadapinya.” ucap Bu Franka.

7.Formulasi yang tepat untuk anak itu tetap santun, tetapi punya tetap percaya diri dan juga tidak perlu di setujui dari orang lain. Dimana selama ini socmed memberikan pengaruh juga karena menjadi lifestyle sehari-hari?

Menurut Bu Catharina, yang pertama adalah bagaimana anak memiliki kepercayaan diri memang kadang-kadang melihat, kalau menurut pengalaman dari Bu Catharina dirinya mungkin bisa ditemukan dari keluarga ketika ibunya introvert dan begitu juga dengan anaknya. Tetapi memang pertama kita harus membangun kepercayaan diri anak-anak itu, Bu Catharina mengatakan bahwa anak-anak pintar hanyalah perbedaan dan kenapa ada anak pintar karena mungkin karena cara belajarnya misalnya.

“Semua bisa kita lakukan kalau memang benar-benar mau mengubah cara belajar kita, cara memahami sesuatu, sehingga itu yang paling penting. Yang selalu saya sampaikan kepada anak-anak kita yaitu jika mengalami perundungan jangan dibalas, tetapi tunjukkan bahwa kamu gak seperti yang merekan pikirkan bahwa kamu gak takut menghadapi apa yang mereka pikirkan, kalau sesuatu yang membuat kamu gak nyaman kamu harus menyampaikannya.” kata Bu Catharina.

Well itu saja sih dari cuplikan seminar Kemendikbud yang sudah ditayangkan di hari Selasa yang lalu, sebenarnya masih ada lagi keseruan-keseruan acara selain talkshow bersama 3 perempuan hebat itu dan masih ada lagi diskusi tentang dunia perempuan, cuman sayangnya aku gak sempat meringkas secara keseluruhan lagi karena topiknya lumayan banyak dan takutnya malah semakin panjang tulisannya.

Terimakasih kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dan 3 perempuan hebat yang selalu menginspirasi bagi kita semua. Juga terimakasih banyak kepada Kemendikbud yang sudah menggelar seminar inspiratif di hari Perempuan internasional dan juga moderator Bu Widya Saputra yang sudah memanduku di seminar ini. Harapan aku semoga para perempuan terus maju dan berjuang menggapai cita-cita yang impinkan serta tunjukkan bahwa sebagai perempuan juga bisa berguna bagi orang lain dan pasti bisa menjadi pemimpin yang baik di lingkungan keluarga dan di dunia karier atau masyarakat.

Selamat Hari Perempuan Internasional !

14 tanggapan untuk “Perempuan Pemimpin dan Kesetaraan Gender bersama Kemendikbud

  1. Nendang! Gila! sayangnya aku gak tahu informasi tentang webinar ini jadi gak bisa ikut, huaaaaa
    Paling seneng deh ngomongin tentang perempuan. Kira-kira ada lagi gak ya webinar kaya gini lagi *ngarep

    Suka

  2. Aku salfok sama Ibu Angkie nya yang cantiiikk 🙂
    Intinya sih, perempuan itu harus bisa jadi diri sendiri yaa. Supaya siap untuk menghadapi tantangan diluar sana, untuk kuat menghadapi apapun.

    Suka

  3. Membahas tentang perempuan memang nggak ada habisnya ya. Rasanya memang perempuan harus diperhatikan hak-haknya juga. Supaya jangan diremehin apalagi dikatain lemah terus, huh..

    Suka

  4. tiga point ini sih paling bikin aku aware, intoleransi, kekerasan seksual, dan perundungan. tiga kasus ini kerap terjadi pada wanita di semua sektor dan tempat ( bekerja, komunitas, sekolah, lembaga dll ). edukasi seperti ini harus makin sering digalakkan agar masyarakat luas lebih aware terkait hak – hak wanita

    Suka

  5. Aku fokus pada membangun kepercayaan diri anak
    jujur dulu aku termasuk anak yang tidak percaya diri
    jadi apa-apa itu rasanya malu aja hehe
    tapi ya makin hari bisa sedikit membangun kembali
    ah semoga anakku bisa menjadi lebih baik

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s