Merantau

*Well sebenarnya aku lagi gak ada ide buat bikin cerita

***

Pukul 10 malam aku masih sibuk mengepak-ngepak pakaian dan peralatan pribadiku untuk memasukkan ke dalam koper, fuihhh… rasanya capek sekali sudah hampir 2 jam masih terus aja ngerapiin kamarku sekaligus menyiapkan beberapa pakaian dan perlengkapan pribadiku untuk kuliah besok di Depok.
Tok…tok..tok
“Masuklah!” pintu kamarku terbuka dan kulihat seorang ibuku yang sudah memasuki 60 tahun menghampiriku yang masih beres-beres baju di koperku, ibuku tersenyum dan berkata. “Kamu masih belum tidur?”

“Belum bu, masih banyak banget beberapa pakaianku yang harus aku bawa.” Ucapku sambil menata baju-baju kuliah dan baju rumah untuk dibawa besok, aku sendiri adalah seorang gadis yang banyak sekali baju-baju di lemariku yang sayangnya bajunya gak pernah diganti-ganti dan setiap mandi saja pakaiannya hanya baju kaos lengan panjang polos berwarna hitam atau hijau aja meskipun sudah di cuci dan disetrika. Karena aku sendiri juga sebenarnya gak terlalu suka pakai baju yang mencolok atau gaya yang aneh seperti tanktop atau pakai kaos lengan pendek.
Ibu yang tadi melihatku tiba-tiba memutuskan keluar begitu saja dan kembali masuk ke kamarku lagi sambil membawa sesuatu. “Ibu bawa sesuatu untukmu untuk dipakai disana, semoga kau suka.” Ucapnya sambil memberiku sebuah kaos rajut bermotif biru laut yang sangat indah dimataku.

“Wow, kaos rajut! Udah lama sekali aku mengingkan kaos rajut ini.” Pekikku sambil melihat kaos rajut itu, motifnya bagus sekali seperti kaos di luar negeri. Aku yakin pasti harganya mahal sekali.
“Ini ibu beli dimana ya?” tanyaku.
“Itu bukan beli sih, tapi ibu hanya iseng-iseng aja bikin kaos rajut ini untukmu. Kamu tahu sendiri kan selain ibu bekerja di kantoran ibu juga buka usaha buat jual pakaian-pakaian rajut buatan ibu.” Ucapnya dengan mantap. Bisa dibilang aku ini adalah berasal dari keluarga kecil yang tinggal di kompleks perumahan yang lumayan elit, sejak bapakku meninggal 2 tahun yang lalu. Kami lah yang meneruskan untuk membangun perekonomian keluarga kami dengan cara bekerja dengan giat.

Kakak laki-lakiku kini sudah bekerja di Belgia dan jarang sekali pulang ke Indonesia, adikku yang masih kecil sudah naik kelas 12 SMA dan mendapat beasiswa dari kementrian pendidikan, ibuku bekerja sebagai staff CEO di perusahaan besar sekaligus membuka usaha toko online pakaian rajut yang biasanya kami buka saat hari weekend atau tergantung jika ibuku sedang cuti atau sebentar lagi sudah mau pensiun dari dunia perkantoran. Sedangkan aku yang bisanya ngurusin usaha tokoh online ibuku, kini juga harus merantau ke Depok untuk melanjutkan kuliahku.
“Oh iya, aku lupa hehehe.” Kataku sambih terkekeh.
“Jadi kamu berangkat kesana besok pagi?”
“Iya bu, jadinya aku harus berangkat pagi jam 6 mendadak deh.”
“Oh ya sudah, sekarang kamu tidur dulu, gih. Besok kamu lanjutin beres-beres kopernya.”
“Baik bu.” Kataku.

Akhirnya ibu memutuskan untuk keluar meninggalkanku di kamar. Cepat-cepat aku membereskan alat perlengkapan pribadi dan pakaianku ke koper dan menutup tas koper itu dengan rapat, kutaruhkan koper itu ke sisi sudut ruangan dan memutuskan untuk tidur. Aku masih terus membayangkan bagaimana suasana di Kota Depok dan seperti apa tempat kampusku disana nanti, apakah bangunannya besar, halamannya yang luas, atau terlihat biasa saja. Ah sudahlah, lebih baik aku fokus untuk tidur saja

***

Keesekoan paginya, aku dan ibuku sudah sampai di Satsiun Kereta Api Kranji. Suasananya masih sepi karena kami baru berangkat jam setengah enam pagi, hanya ada beberapa orang dan satpam yang melintas disekitar stasiun, kereta api tujuan Jakarta masih belum tampak juga dan hanya satu kereta api saja dengan tujuan ke Cikarang yang masih berdiam diri di atas rel. “Masih sepi nih, kereta api tujuan Manggarai belum nampak juga.” Kataku.

“Sambil nunggu kereta api selanjutnya, mending kita makan dulu. Kebetulan kita ini kan belum sarapan sejak berangkat dari rumah.” Kata ibuku. “Iya bu, aku aja juga masih lapar. Cari tempat makan yuk.” Akhirnya aku dan ibuku memutuskan untuk mencari makanan di pinggiran food court, beberapa kedai dan minimarket sudah baru buka dan masih terlihat sepi. Kami memutuskan untuk membeli nasi box berisi nasi ayam madu beserta telur ceploknya yang bisa dipanaskan pake oven di minimarket, tak lupa aku juga membeli beberapa cemilan kecil untuk dibawa selama perjalanan ke Depok.

Aku dan ibuku menikmati sarapan pagi di meja kecil dekat pinggiran minimarket sambil menikmati suasana orang-orang yang berlalu-lalang di stasiun kereta api. Pagi-pagi nikmat sekali menyantap nasi beserta telur ceplok dan ayam madunya yang selagi masih hangat. “Hei, jangan cepat-cepat makannya.”
“Uhuk uhuk!” Aku langsung tersedak akibat makan terlalu cepat sehingga kerongkonganku terasa panas akibat memakan nasi yang masih hangat. Aku segera mengambil botol air minumku dan meminumnya dengan pelan. “Maaf bu, aku tadi lagi buru-buru makannya soalnya takut telat.” Ucapku sambil terbatu-batuk akibat keselek nasi.

“Ini masih lama, tahu. Matahari aja udah baru muncul di ufuk timur dan keretanya aja masih belum datang juga.” Kata ibuku sambil menatap heran melihat kelakuanku. Setelah nunggu 1 jam menunggu kedatangan kereta api selanjutnya, akhirnya sebentar lagi kereta api tujuan Jakarta akan tiba di Stasiun Kranji. Aku bersiap-siap untuk pergi ke pinggiran peron untuk menunggu kedatangan kereta api yang masih berada di jarak 5 kilometer lagi, sedangkan ibuku sedang sibuk memasukkan snack cemilan kecil di tasku.

“Tidak ada yang ketinggalan kan?” tanya ibuku.
“Tidak ada bu, semuanya sudah lengkap.” Jawabku sambil tersenyum.
“Berarti sekarang ibu merasa kesepian, donk.” Ucapnya dengan sedih. Sebenarnya aku merasa tak tega meninggalkan ibuku di kampung halamannya serta adikku dan teman-temanku yang ada di Bekasi.

“Jangan sedih bu, aku jadi ikutan sedih juga nih,” kataku yang meski berusaha untuk menahan tangisnya. “Kini aku sekarang sudah dewasa, dan aku sudah cukup mandiri untuk merantau ke luar kota. Jangan khawatir aku akan terus mengirmkan pesan dan membalas chat dari ibu dan aku berjanji akan sering pulang ke Bekasi sambil membawa oleh-oleh.” Ucapku dengan lembut.
“Terima kasih bu sudah membesarkanku dari kecil, aku sangat bangga punya ibu yang sangat hebat sekali bagiku.” Kataku dengan mantap.
Ibu hanya bisa meneteskan air matanya dan segera memelukku dengan erat. Aku membalas pelukan ibuku dengan erat serta hangat. “Ibu bersyukur punya anak yang berbakti sepertimu.”

“Aku juga.” Kami melepaskan pelukanku dan berusaha menenagkan tangisan kami. “Jaga baik-baik, nak. Ibu akan selalu menanyakan kabarmu disana nanti.”
“Aku akan selalu menjawab pesan ibu.” Kataku sambil tersenyum tulus.
Akhirnya kereta api dari Stasiun Bekasi sudah sampai di Stasiun Kranji, aku segera mencium tangan ibuku dan mengucapkan salam perpisahannya. “Aku berangkat dulu ya, bu.”
“Jaga dirimu baik-baik.” Balasnya sambil tersenyum lembut.

“Sampai jumpa.” Kami saling melambaikan tangan dan aku segera memasuki kedalam kereta api, beberapa menit kemudian pintu kereta api sudah ditutup. Aku mengintip kearah ibuku lewat jendela sambil melambaikan tangannya, dan dibalas lambaian ibuku yang berada di luar kereta api. Akhirnya kereta api itu mulai berangkat dan membawaku ke luar kota sekaligus meninggalkan keluarga serta kampung halamanku.

Goodbye Bekasi

Depok I’m coming

  • Cerita ini hanyalah sebuah fiksi

Bekasi, 26 Februari 2021

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s