You’re my daughter (END)

Lanjutan dari part 2

***

“Hei, Jayden. Sudah lama kita tidak bertemu.” James, adik iparku yang sudah lama sekali kami tidak bertemu dengannya setelah kematian istriku sekaligus saudarinya James. Saat ini ia berada di Inggris untuk bertugas yang entah aku tak tahu dia bekerja sebagai apa karena ia tak pernah menceritakan ini kepadaku. Sikapnya masih saja seperti dulu, dia memang sedikit keras kepala dan masih tidak nyaman sejak aku menikah dengan istriku karena perbedaan ras dan statusku yang berasal dari ras vampir.
“Aku tahu kau pasti merindukan Skotlandia dan juga kampung halamanmu. Tumben sekali kau menelponku di tengah malam ini, kau mau apa?” ucapku dengan nada yang terlihat ketus.

“Aku hanya ingin memastikan keadaan keponakanku sekaligus anakmu, Jean, apakah dia baik-baik saja?” ternyata dia masih menanyakan tentang putriku sampai sekarang ini. Dia memang paman yang baik bagi Jean dan ia sering mengajaknya untuk memancing di Danau Loch Ness  atau bermain di halaman depan rumah ketika aku masih tinggal di rumah kecil dekat pinggir Danau Loch Ness dulu.

Kami jarang sekali berbicara apalagi mendiskusikan hal-hal aneh yang dialami oleh manusia. Hubungan kami kadang panas dingin saat berdebat masalah teror vampir dan pemburuan yang masih terus berkecamuk hingga sekarang, masalah ini sangat membingungkan dan terlalu pusing bagiku. Dan juga itu sangat tidak penting bagiku dan hanya membuang-buang waktu untuk membahas hal yang sangat membosankan.

Aku membalas pertanyaan James sambil bersikap tenang sambil menyeringai kecil. “Jean tidak apa-apa saat tinggal bersamaku. Kelihatannya dia tampak bahagia dan terlihat ceria sejak kematian ibunya, aku yakin dia sudah rela melepaskan saudarimu ke alam sana dan tampaknya Jean juga sangat aktif.”
“Yeah, aku merasa senang melihat kondisi kalian sekarang ini,” ujarnya dengan sedikit bahagia dan tiba-tiba suaranya menjadi terlihat cemas. “Sepertinya mansionmu tidak aman untuk Jean.”

Aku yterus bersikap tenang ketika James mengatakan hal buruk itu meskipun diam-diam aku sedikit terkejut, lagipula aku sama sekali tidak percaya dengan omongan James karena dia memang menyebalkan dan selalu saja terus meremehkannya. “Aku benci dengan permainanmu, James.”
“Ini serius, Jayden. Kau lihat diluar sana, mereka terus mengamati kalian termasuk Jean dari sisi pohon besar di sekitanya. Mereka tahu kalau kau mempunyai anak hasil dari persilangan vampir dan manusia, meskipun Jean anak setengah darimu tetapi tetap saja dia masih ada seperti….. aku tak bisa menjelaskan lagi, dirinya dia juga masih punya setengah manusia.” Aku tidak mengerti apa yang dikatakan James itu, tetapi yang dikatakan itu benar bahwa makhluk vampir masih terus mengikuti kami dimana-mana. Mereka benar-benar tahu kalau Jean itu adalah anak manusia dan darahnya saja masih tercium bau-bau manusia oleh mereka meskipun Jean sendiri anak campuran darah manusia dan darah vampir dariku, ini aneh sekali.

“Anakmu sedang dalam bahaya, sebaiknya dia harus mencari tempat yang aman dan sangat jauh dari mereka.” Ujarnya dari dalam sambungan telepon.
“Aku tak punya pilihan lagi, dia harus tetap disini bersamaku. Soal ancaman itu aku akan mengurusinya.” Ujarku dengan ketus yang seolah-olah tidak perlu meminta bantuan dari dia.
“Aku..” Suara James terlihat terputus-putus di sambungan teleponnya dan bisa kutebak bahwa dia terlihat cemas dan terus memikirkan untuk keselamatan putriku. “aku bisa melindungi anakmu.”
“Dengan apa?” tanyaku.
“Ayo kita diskusikan lagi.”

Kami memutuskan untuk berdiskusi lebih serius soal masalah keselamatan putriku dari ancaman bahaya. Awalnya aku tidak setuju dengan tawaran dari James untuk menyelamatkan putiku nanti, tetapi dia bersikeras untuk berjanji bahwa putriku akan baik-baik saja dan aku hanya bisa pasrah menerima ini dan yang dikatakan James benar juga, mereka masih terus mengintai kami sebelum ancaman itu mulai berlangsung.
“Bagaimana, apakah kau setuju dengan kesepakatan kita ini?” tanyanya. Aku tak punya pilihan lagi untuk melindungi Jean karena dia adalah putriku yang satu-satunya, akhirnya aku harus menerima dengan resiko terbesar ini demi menyelamatkan nyawa Jean dari tangan para makhluk jelek itu. “Aku terima tawaranmu.”

Aku bisa mendengar suara James terkekeh kecil lewat sambungan teleponnya meskipun terdengar samar. Bagiku ini tidak adil, seharusnya aku tidak mengangkat telepon saja dan memutuskan untuk mencabut kabel colokan telepon tersebut supaya seseorang tidak mengganggu lagi termasuk James. “Besok kita tunggu di taman St. Phills.” Katanya dengan suara yang ketus dan langsung menutup teleponnya tanpa mengucapkan kata penutup. Dasar manusia tak sopan santun, gumanku.

***

Pagi yang mendung datang menyelimuti Hutan Greenwood, udaranya cukup dingin dan banyak pohon-pohon kering yang terlihat seperti sudah mati disekitar mansion. Aku baru saja mengepak semua pakaian kedalam tas koper untuk berisap meninggalkan tempat peninggalan ayahku, rasanya sangat berat sekali untuk meninggalkan tempat masa kecilku yang begitu indah. Dan mansion ini akan ditempati oleh adikku yang sebentar lagi akan pulang dari Rumania, aku menutup resleting tas koper besar dan menaruhnya di sudut kamar.
Aku melangkah keluar dari kamar untuk bergegas ke ruang makan besar untuk mengecek keadaan Jean yang ada di sana. Suasananya sangat hening sekali dan terasa lembap karena tak ada satupun cahaya matahari yang bisa menembus bilik-bilik jendela mansion karena aku sangat benci dengan sinar matahari dari pagi sampai sore sehingga aku sengaja menutup semua jendela oleh gorden yang besar serta menyisakan beberapa jendela kecil untuk menerangi ruangan mansion.

Sesampainya di ruang makan, aku mendapati Jean yang sedang belajar makan Oatmeal sendiri di meja makannya. Aneh, biasanya di umur 5 tahun begini Jean masih disuapin makanan olehku sambil ia memainkan ganggang sendok logam kecil atau berlari di dalam mansion sembari dalam keadaan masih makan. Aku tersenyum melihatnya karena Jean sudah bisa makan sendiri meskipun masih berceceran di meja makannya dan terdapat sisa-sisa makanan yang ada di mulut Jean.

Kulihat dia masih berusaha menggenggam sendok yang terisi Oatmeal untuk memasukannya ke dalam mulut, aku hanya bisa terkekeh kecil melihatnya karena lagi-lagi dia gagal memasukan makannya ke mulut sehingga sisa makanan di sendoknya jatuh berceceran di baju piyamanya. Aku hanya bisa menggelang kepalanya sambil menghampiri kearah Jean yang sedang mengaduk-aduk Oatmeal di mangkuknya dengan keadaan berceceran di mejanya. “Mau disuapin lagi oleh Dad?” ujarku dengan nada yang sedikit menggoda.
“Tidak, aku sudah bisa sendiri.” Serunya sambil menggenggam ganggang sendok untuk mengambil sesendok Oatmeal dari mangkuknya namun ia gagal mendapatkan sesendok bubur dan sepotong buah berries di mangkuknya. Aku hanya menghela nafas pendek dan duduk di sebelah Jean, meraih mangkuk kecil berisi Oatmeal dari Jean dan mengaduknya mangkuk itu dengan pelan.

“Seharusnya Dad lupa memasang celemek kecil di lehermu sebelum makan.” Aku terkekeh pelan sambil mengambil sesuap Oatmeal menggunakan sendonya. “Aku bukan bayi lagi, Dad.” Ujaranya dengan wajah yang cemberut.
“Diamlah, jangan pergi kemana-mana.” Seruku sambil menyuapi makanan Oatmeal kearah mulut Jean, Jean tampak manyun sambil menerima suapan makanan itu dan memasukkannya ke dalam mulut. Aku tersenyum manis melihat wajah polos Jean dan kutaruh mangkuk kecil itu ke mejanya. “Selesaikan makananya, sebentar lagi kita akan pergi.”

“Kita mau jalan-jalan lagi?” serunya sambil menatap wajahnya yang berbinar-binar.
“Entahlah, yang penting selesaikan makananmu dan segeralah untuk bersiap-siap.” Kataku sambil bangkit dari duduknya untuk pergi meninggalkan Jean.

***

Aku membawa putriku ke sebuah taman St. Phillips menggunakan mobil lama yang kembali kupakai setelah 18 tahun lamanya, mobilku berjenis BMW seri 3 berwarna hitam sering pernah aku pakai saat bersama dengan istriku. Mobil yang kupakai itu adalah sebuah hadiah ulang tahun istriku ketika aku memasuki genap berusia 200 tahun, sebelumnya aku belum pernah mengendarai kendaraan ciptaan manusia ini apalagi menyentuhnya. Tetapi istriku mengajarkanku untuk cara mengendarai mobilnya dengan baik agar tidak seperti pengemudi mabuk yang selalu meresahkan di jalan raya, ini terlihat gampang sekali mengendarainya seperti permainan boom bomm car yang sering dimainkan oleh anak kecil. Bisa dibilang bahwa diriku ini adalah makhluk vampir pertama yang satu-satunya bisa mengendarai mobil diantara lainnya.

Kami sampai di sebuah taman St. Phills yang belum pernah aku kesana sebelumnya. Tamannya sangat luas dan terdapat sebuah patung Dewi kesuburan di tengah air mancur yang begitu gagah, banyak sekali pohon-pohon cemara yang begitu tinggi serta bunga-bungan yang bermekaran lebat di sekitarnya. Kulihat ada James di sana yang sedang berdiri di sebelah pohon pinus, dia tampak memakai jaket kulit berwarna cokelat dan memakai celena setelan jeans berwarna biru kusam. Wajahnya terlihat mengkerut dan sendu, sedangkan rambut pendeknya berwarna cokelat dibiarkan terlihat berantakan seperti orang yang habis bangun pagi.

Kami keluar dari mobilnya segera dan tak lupa aku mengeluarkan sebuah koper besar dari bagasinya, kemudian kami berjalan menghampiri James yang sedang bersenderan di bawah pohon pinus sambil melipatkan tangannya. “Akhirnya kalian datang juga,” Katanya sambil bangkit dari senderannya. “Hanya sekitar 2 menit untuk sampai ke tempat ini.” Balasku.
“Jadi bagaimana, kita langsung saja?” tanyaku lagi.
“Baiklah, aku akan mengambilkan koper Jean darimu untuk membawanya ke mobilku, sedangkan kalian silakan mengobrolah untuk sebagai akhir dari perpisahan ayah dan anak. Aku akan segera kembali.” Aku langsung menyerahkan koper besar Jean kepada James, ia menatap kearah Jean yang masih bersembunyi di balik kakiku.
“Hi Jean, sudah lama sekali paman tidak bertemu denganmu.” Ujaranya sambil tersenyum. Jean hanya tersenyum malu sambil menggenggam bonek tedy kesayangannya. “Halo juga, Paman.”

James pergi meninggalkan mereka sambil membawa koper Jean untuk memasukkan kedalam mobil yang berada di pinggir taman yang tak jauh dari kami. Jean tampak bingung dengan kelakuanku dan kemudian bertanya, “Dad, sebenarnya kita mau kemana?”
“Mulai sekarang kau harus tinggal di rumah pamanmu.” Ujarku dengan cepat. Jean masih bingung dengan ucapanku dan terus bertanya. “Kenapa aku harus tinggal bersama paman, sebenarnya Dad mau kemana?” pintanya.
Aku tidak menjawab dari pertanyaannya Jean karena aku tak sanggup membicarakan ini sebenarnya, ini adalah perpisahaan berat bagiku dengan putriku yang masih kecil karena yang aku lakukan ini demi keselamatan Jean dan juga keluarga kecilku. Aku menatap kearahanya sambil berlutut dihadapan Jean, tanganku menupuk bahu Jean sambil mengelusnya dengan lembut. “Dad minta maaf karena tidak bisa merawatmu dengan baik dan Dad juga harus pergi keluar kota dan…. juga pergi ke Belanda untuk menyelesaikan pekerjaanku disana.”

“Apakah kita tidak bisa bertemu lagi?” ia bertanya lagi.
“Mungkin…Iya.”Aku sengaja berbohong mengatakan hal ini kepada Jean supaya dia mengerti dengan perasaanku, aku membelai rambut Jean dengan lembut dan wajahnya seperti terlihat sedih. “Kumohon, tetaplah bersamaku.”
Aku sangat kasihan melihat putriku yang terlihat bersedih dan tidak tega meninggalkan dia sendiri bersama James karena Ini adalah hari terkahirku untuk bersama Jean sebelum aku memutuskan untuk pergi meninggalkan mereka, dia terlalu masih kecil dan tidak tahu apa-apa dengan pekerjaan orang dewasa ini. Aku yakin Jean sangat aman disana dan para makhluk berngsek itu tidak akan mencari putriku lagi, Jean memelukku dengan erat dan aku bisa mendengar suara isakan tangis kecil Jean di telingaku.

Aku membalas pelukannya dengan hangat sambil mengelus punggung Jean yang tergerai oleh rambut panjangnya, kami melepaskan pelukan hangatnya dan aku melihat wajah Jean kini terlihat merah serta terdapat bekas air mata di pipinya dari mata yang sedikit memerah akibat menangis. Kuhapuskan sisa air mata dengan ibu jariku yang lembut dan terus menenangkan Jean yang masih terisak menangis.
“Aku ingin Dad kembali.” Ucapnya dengan suara yang kecil.
“Dad berjanji akan bertemu kembali suatu saat nanti, kau juga bisa menuliskan surat kepada Dad setiap hari ketika kau masih merindukan Dad. Dad akan segera membalas surat darimu.” Ujarku sambil tersenyum.

James kembali menghampiri kami untuk mengajak Jean untuk ikut bersama James. “Apakah kalian sudah mengucapkan salam perpisahan di hari terakhir?” aku masih terdiam serta memilih enggan saat ditanya oleh James. Sedangkan Jean hanya bergeming sambil terlihat sesenggukan kecil, Jean mundur sedikit dan tangan kecilnya diraih oleh tangan James yang ada disampingnya. Aku bangkit untuk berdiri sambil membersihkan debu dan tanah yang menempel di celana panjangku.
“Kumohon, jaga putriku baik.” Kataku.
“Aku akan selalu mejaganya dengan baik.” James tersenyum sumingrah sambil melirik kearah Jean. “Sampai jumpa, Dad.” Ucap Jean sambil melambaikan kecil kepadaku, aku tersenyum sambil membalas lambaian Jean dan pergi meninggalkan mereka.

Aku berjalan lemas menuju kearah mobil tanpa berbalik kearah mereka yang masih menatapku, aku hanya bisa tersenyum lirih dan berusaha untuk menyembunyikan emosiku. Selamat tinggal, Jean. Gumanku dalam hati. Aku langsung membukakan pintu mobilnya dan masuk kedalamnya tanpa bersuara, aku melihat sekilas bayangan putri kecilku dari luar lewat kaca spion di dalam mobilnya. Tanpa sadar, air mataku mulai menetes meskipun hanya sesekali saja, tetapi aku tidak merasakan menangis maupun sedih, hanya saja aku merasa pasrah karena terus memikirkan Jean. Aku langsung menyalakan mobilku dan tanpa berpikir panjang, aku memutuskan untuk menancap gas dan meninggalkan mereka di taman.

Akhirnya menyadari bahwa aku bisa merasakan tangis setelah sekian lamanya usai meninggalkan Jean bersama pamannya, aku bisa bebas menangis sejadi-jadinya meskipun masih tetap dalam keheningan di dalam mobil. Lagi-lagi aku merasa kehilangan semuanya termasuk orang-orang yang kucintai di dalam lingkaran keluargaku, istriku, Jean, dan orangtuaku yang sudah ratusan tahun meninggalkanku tanpa mengucapkan salam perpisahan denganku. Kini, hanya tinggalah sebuah kenangan pahit bersamanya dan Jean, putriku yang malang yang mau tak mau harus aku rela melepaskannya ke tempat yang jauh demi keselamatan Jean dan juga pengorbananku sebagai orangtua.

***

21 tahun kemudian.

Aku terus menampak kaki bebatuan yang tajam dan berusaha untuk naik ke atas bukit. Perjalanan ini memang sangat melelahkan daripada lari marathoon dari Danau Loch Ness sampai ke rumahku. Kini aku sudah menginjak di usia 21 tahun, aku masih ingat tempat yang dulu selalu bermain bersama Dad, tepatnya di taman bermain dekat samping Danau Loch Ness. Sayangnya, aku tidak sempat pergi kesana lagi karena tempatnya itu lagi sedang direnovasi sehingga aku memutuskan pergi ke suatu entah yang sangat kurindukan.

Udaranya sangat dingin sekali setelah badai salju kemarin malam, semua hutan diselimuti oleh salju yang tebal, bunga-bunga, pohon cemara besar yang sering dijadikan sebagai markas seekor rusa yang kini tertutup oleh salju putih yang tebal sehingga tampak seperti pohon berwarna putih yang indah. Aku terus menampaki tanjakan atas yang tinggi serta melewati kabut-kabut tipis yang dingin disekitar hutan, untungnya aku merasa tidak begitu dingin karena aku memakai sebuah jaket coach tebal berwarna abu-abu gelap dan memakai celana panjang katun berwarna hitam legam untuk menghangatkan tubuhku, dan juga memakai boots hitam pendek pemberian hadiah ulang tahun dari bibi, tak lupa aku selalu memakai sarung tangan tebal berwarna hitam supaya tanganku tidak merasakan hawa dinginnya. Rambutku yang panjang kubiarkan tergerai yang hampir sepunggung dan ditutupi oleh Topi Berrets rajut berwarna hitam.

Akhirnya aku sampai di sebuah kuburan tua yang tertutup oleh salju yang sangat tebal, beberapa nisannya sudah tenggelam dari tumpukan salju dan hanya menyisakan sebagian nisannya saja, aku berdiri di depan sebuah makam tua yang sangat kukenal dengan sosoknya yang di kehidupanku. Hanya saja aku masih melihat ukiran nisan yang begitu jelas meskipun sudah begitu pudar serta terdapat sebuah kalung bawang putih yang sudah busuk selama bertahun-tahun di atas nisannya. Di sebelah nisan juga ada sebuah nisan yang sama-sama di kalungin oleh sebuah kalung yang dihiasi bawang putih. Aku sangat mengenal kedua makam itu dan saat ini aku sering mengunjunginya sambil mengingat sebuah momen kenangan manis bersamanya, ku keluarkan sebuah buket bunga Peony kecil dari balik jaketku dan meletakkan bunga itu diantara kedua makamnya.

Mum, Dad. Aku sangat merindukan kalian, kataku.

FINN

Bekasi, 26 Januari 2021

27 tanggapan untuk “You’re my daughter (END)

  1. Aku penasaran gimana Dad bisa mati juga kak Alya? Aku mengikuti ceritanya dari Part1 till end… dan masih penasaran kelanjutannya.

    Suka

  2. Baca cerita ini malem-malem jadi terbawa suasanya.ngebaca sambil di hayalin jadi kaya cerits nyata. Kayanya ini harus ada lanjutan nyaagi deh jgn end soalnya masih penasaran.

    Suka

  3. agakk meringing bbacanya apalagi di pagi buta gini, tapi pembangunan suasananya keren banget sii. salut dengan pengorbanan ayah jean, semoga masiih ada cerita lanjutannya ya kak

    Suka

  4. Mbak alya ini pake sudut pandang dad sama jean ya? bener ya? dan seperti pake alur mundur? karena flashback saat jean masih kecil? ternyata cakep juga ya pake sudut pandang berbeda, awalnya kalau gak tahu cerita mula pasti bingung juga, tapi kalau awal sudah tahu jadi ngeh, seperti ini ceritanya.

    Suka

  5. Keren ceritanya. Pake segala settingnya di kuburan lagi. Dan ternyata itu kuburan yg ada kalung bawangnya milik ayah ibunya ya

    Suka

  6. Wah imaginasinya keren nih. Bisa bikin cerita tentang vampir gini. Btw jadi ini ceritanya pake dua sudut pandang ya. Si bapak dan anaknya.. eh aku juga penasaran, kenapa si dadnya bisa menuyusul momnya

    Suka

  7. Tulisan ini sebaiknya dibukukan , sudah sangat bagus. Semoga buku itu bisa jadi hits bagi genre yang kamu sukai. Sangat detail dan bagus alur ceritanya.

    Suka

  8. Udah paling nggak kuat kalau ada cerita / moment tentang sudah tidak adanya kedua orang tua, apalagi ada kalimta yang terlontar dari seorang anak yang menyampaikan kerinduannya. Aku bisa merasakannya. Goodluck yah Mba Al 😉

    Suka

  9. Hadudu malem2 ada nisan dikalungin bawah putih, tapi kisahnya sedih banget yaa.
    Pengorbanan orangtua, untuk Jean bikin meleleh.
    Dan akhirnya end deehh, meski endingnya hiks.

    Suka

  10. Ditunggu cerita fantasy nya lagi ya. Saya sendiri lebih suka membaca ketimbang menulis cerita sepertinya. Berimajinasi itu nggak semudah yang dibayangkan. Lebih bagus di imajinasiku, begitu ditulis, eh malah semrawutan

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s