You’re My Daughter (part 2)

Lanjutan dari part 1

Saat langit mendung aku mengajak putriku jalan-jalan ke sebuah hutan yang indah di penuhi nuansa kemerahan. Saat ini sedang memasuki musim gugur di Inverness, daun-daun berwarna merah kecoklatan mulai menghujani sekitarnya dan jatuh membanjiri jalanan hutan. Musim gugur adalah favoritku karena cuacanya cukup baik dan sejuk untuk diriku sendiri, ini seperti seolah-olah kau berada di hutan merah menyala seperti api dan daunnya yang coklat seolah-olah sudah terlihat gosong akibat dibakar oleh sinar matahari. Burung-burung menghinggap di atas ranting pohon sambil meyanyikan lagu-lagu indah untuk menyambut musim gugur.

Kami berjalan melewati setapak bebatuan sambil menginjak daun-daun kering dan menyingkirkan tumpukkan daun kering yang terus menghalangi kami. Aku mengenakan coat panjang berwarna coklat pudar berbahan wool serta memakai kaus dalam berwarna hitam polos, dan memakai celana panjang hitam katun serta memakai sepatu boat pendek kulit berwarna hitam. Sedangkan Jean yang berjalan disampingku hanya mengenakan jaket parasut berwarna biru serta memakai celana panjang hitam ketat, dan memakai sepatu tali biasa. Rambutnya terlihat lepek akibat terkena sinar matahari ditutup menggunakan beanie hat berwarna merah.

“Sebenarnya kita mau kemana, Dad?” Kata Jean sambil berjalan di sebelahku.

“Hanya jalan-jalan sore saja.” Ucapku dengan enteng sambil terus menapak kaki ke jalan-jalan yang berlumuran tanah kering.” Oh iya, di sana ada sebuah wahana permainan keren yang belum pernah kau kesana. Ada kincir angin, komedi putar, istana, dan masih banyak lagi. Di sana lebih menakjubkan daripada sekedar taman bermain biasa.”

“Dulu Dad dan ibumu pernah kesana serta mengajak kau juga, Jean. Hanya saja waktu itu kau masih di dalam kandungan ibumu.” Kataku sambil fokus menatap ke depan.

“Woah, sepertinya seru sekali.” Pekik Jean sambil wajahnya yang berbinar-binar ketika dirinya senang pergi ke wahana permainan yang belum pernah kesana seumur hidup. Aku hanya tersenyum simpul melihat Jean yang terlihat semangat ketika diajak bermain kesana olehku, wahana permainan itu sudah lama sekali sejak aku pertama kalinya pergi bersama oleh istriku. Sebenarnya aku tidak terlalu suka pergi ke tempat keramaian apalagi bertemu manusia di sekitarku, mereka seperti mengawasiku di mana-mana seolah-olah melihat artis yang datang untuk menemui fans nya. Tetapi aku hanya bersikap tenang saja seolah-olah aku ini terlihat keren dan sempurna diantara manusia.

Saat kami pergi ke tempat wahana permainan yang terletak di perkotaan kecil, tiba-tiba aku merasakan penciuman yang tajam ke sesuatu dari dalam hutan tepat di pinggir sungai. Aku merasakan mecium bau-bau darah segar dari arah dalam hutan sana, benar saja aku mendengar ada suara langkah kaki seseorang yang berjalan dari arah sana yang tak jauh dariku.

“Jean, kau tetap di sini saja. Jangan khawatir Dad akan segera kembali.” Kataku dengan tenang.

“Dad mau kemana?” ucapnya sambil memandang wajah polos. Aku tahu dia sangat kasihan sekali jika ditinggal sendiri olehku, aku tak bermaksud sebagai ayah yang buruk dan membiarkan putriku tinggal sendiri begitu saja. Namun, karena aku merasakan mencium darah yang tidak jauh dari arah sana sehingga penciumanku menjadi sensitif dan mulai merasa haus karena dari kemarin aku tidak sempat berburu darah hewan atau manusia di malam hari karena sedang terjadi badai hujan. Tapi hari ini aku tidak sengaja mencium darah mangsa dari arah sana yang membuat nafsuku kembali kambuh, tidak nyaman juga jika aku mencari mangsa sambil membawa Jean dan menghisap darah mangsangku di depannya karena Jean akan tahu tentang identitas asliku yang sebenarnya.

“Ada sesuatu yang tertinggal dari rumah, Jean. Dad hanya pergi sebentar saja kok, kau jangan pergi kemana-mana.” Ucapku sambil berlutut dihadapannya dan mengusap lembut rambut putriku sebelum pergi meninggalkan Jean. Dan akhirnya aku memutuskan pergi ke arah sungai dengan sendiri.

***

Aku memanjat ke batang-batang pohon dan terus mencari manusia dari atas pohon, melompat terbang diantara dahan pohon pinus yang tinggi untuk memastikan ada seseorang yang melintas di hutan terlarang ini. Aku tidak bisa melihat sosok ke arah bawah karena terhalang oleh pepohonan yang lebat yang selalu menutupinya, matahari sudah berada di ufuk barat dan bersiap untuk menenggelamkan diri di antara dua pegunungan tinggi. Sudah berusaha mungkin aku mencari sosok mangsaku yang berani-beraninya memasuki area terlarang ini tetapi tidak ketemu juga, Akhirnya sosok itu terlihat yang sedang menyeret sesuatu ke pinggiran sungai.

Sosok itu sudah jelas itu adalah manusia, sosok itu memakai topi jerami coklat kusam, penampilannya yang berantakan dan lusuh serta terdapat daun-daunan kering yang menempel di jaket kulitnya yang seolah-olah seperti bangkit dari tumpukan daun. Aku tidak bisa melihat wajah sosok itu karena tertutup oleh topi jeraminya yang sambil menunduk, dan sosok misterius itu ternyata adalah seorang kakek tua yang terlihat melirik was-was untuk memastikan tidak ada seseorang yang melihatnya di sekitarnya tersebut. Aku melompat ke bawah dari atas pohon dengan mendarat sempurna dan mengendap-endap pelan di balik pohon besar, aku yakin sekali kakek tua itu bisa jadi adalah pembunuh yang sering meresahkan warga di Desa Edgeyard. Pembunuh sadis misterius itu sudah beberapa kali berbuat ulah dan tak ada henti-hentinya membunuh korban tanpa ampun, sama seperti vampir sepertiku.

Sosok tampak sedang membuka sebuah karung goni besar untuk mengeluarkan sesuatu yang membuatku penasaran, aku terus mengendap-ngendap pelan menghampiri pria tua di depannya. Semakin mendekat semakin haus nafsuku yang hasrat terhadap dengan darah, sosok itu tidak menyadari bahwa di belakangnya ada diriku yang siap untuk menyerang. Tanpa berpikir panjang, aku langsung menerjang sosok itu dengan cepat dan mendorong sosok itu ke pohon pinus. Wajah kakek tua itu terlihat keriput serta mengekerut, kulitnya berwarna kuning langsat, matanya menyipit yang seolah-olah tidak ada matanya serta rambutnya yang memutih. Ia berusaha untuk melepaskan cengkeramanku dari kerah bajunya dan berusaha untuk memberontak, anehnya ia tak bersuara dan mulutnya saja tidak bergerak sekalipun seperti orang bisu, aku langsung menancapkan gigi taring ke leher nya dan menghisap darahnya sampai habis.

Perlahan-lahan ia mulai kejang-kejang dan seolah-olah sedang menjemput maut, tubuhnya sedikit bergetar dan hingga akhirnya tubuhnya berhenti bergerak dan mati. Aku melepaskan cengkeraman tubuh kakek itu dan menjatuhkan tubuhnya ke pinggiran sungai, kini ia terbujur kaku dan wajahnya membiru akibat kehabisan nafas. Kupastikan dia sudah mati dalam keadaan darah yan sudah habis dan aku berpikir suatu hari lagi dia bangkit lagi dan menjadi sepertiku.

Aku melirik sebuah karung goni besar yang tergeletak di atas tanah. Kuyakin, isinya itu pasti sebuah bangkai misterius yang diduga mayat korban si kakek itu, kucoba untuk menginjak sedikit ke karung itu dan rasanya lembek seperti bantal. Saat aku membuka isi karungnya ternyata berisi sebuah bangkai rusa yang sudah terlihat membusuk, tubuhnya kotor dan bau serta terdapat lubang hitam di dahinya itu adalah bekas terkena tembakan, tanduknya besar dan patah di kepalanya dan mengeluarkan banyak darah. Ternyata si kakek itu seorang pemburu ulung yang sering aku temui saat dia melewati mansionku, dia memang terlihat tuli dan seolah-olah tidak peduli pergi ke tempat berbahaya seperti menuju ke sarang vampir.

Tanpa berpikir panjang, akhirnya kuputuskan untuk meminum seluruh darah di tubuh rusa yang berceceran di karung goni dan tidak peduli jika ada seseorang tiba-tiba tak sengaja melihatku dari belakang, baik itu manusia, hewan, maupun Jean. Ahh… anak itu masih terlalu kecil dan tidak tahu apa-apa tentang legenda makhluk aneh yang sering ditemui oleh manusia seperti vampir. Kuhabiskan semua sisa-sisa darah rusa itu dan langsung menghanyutkan bangkai rusa ke sungai dan dibiarkan terbawa oleh arus sungai yang kuat kearah timur. Sungguh nikmat sekali menyantap darah segar di sore ini, sepertinya ini sudah cukup untuk berburuh darah mangsa.

***

Jean masih berdiri di tengah hutan sambil melihat kearah samping hutan untuk menungguku disana. Saat aku kembali, raut wajahnya seperti terkejut melihat penampilanku yang sedikit berantakan usai memangsa kakek tua dan melahap sisa-sisa darah bangkai rusa, pakaianku kini sudah rapi dan tidak ada daun-daun atau ranting kering di sekitar tubuhku, hanya saja yang membuat ia melongo dengan raut yang membuat bergeming adalah terdapat sisa darah kering yang berwarna merah pucat di samping bibirku, seolah-olah aku ini seperti habis meminum darah.

“Maaf membuatmu menunggu terlalu lama.” Kataku sambil bersikap tenang. Tampaknya Jean sedikit berigidik ngeri dan khawatir dengan ayahnya. “Kenapa ada darah di mulut Dad, sebenarnya apa yang terjadi di sana?” jawabnya yang terlihat seperti khawatir melihat kondisiku.

“Oh..” aku mengelap sisa darah di mulut menggunakan jari tanganku dan membersihkan sedikit ke kain pakaianku. “Mulut Dad terluka habis tersandung dari bebatuan, jadinya Dad jatuh ke tanah.” Lagi-lagi aku berbohong ke putriku dengan apa yang terjadi sebenarnya demi menutupi identitasku supaya ia tidak takut denganku sosok ku yang asli, aku berjalan menghampiri Jean dan menggendongnya tubuh mungilnya ke dekapanku.

Jean memeluk ku dengan erat, “Temani aku.” Pintanya.

Aku hanya tersenyum sambil mengelus rambut Jean di gendongannya. “Kau mau es krim?”

Jean mengangguk.

“Baiklah di tempat sana ada banyak sekali makanan disana, kita bisa membeli apa saja termasuk es krim.” Akhirnya kami melanjutkan perjalanan kesana dan melupakan kejadian yang hampir membuat Jean curiga dan nasib kakek tua di sana.

***

Source : Pinterest/imperfect Life

Malamnya, aku sibuk bermain piano di dekat jendela besar tepat saat bulan purnama menerangi seisi ruang keluarga. Ruang keluarga ini tidak pernah terang sama sekali saat malam hari, hanya saja ada beberapa lampu kecil yang menyala di sisi ruangannya, banyak sekali perabotan-perabotan mewah tapi antik serta terdapat lukisan-lukisan kuno di setiap dindingnya, termasuk foto-foto keluarga kecilku dan juga saat bersama dengan istriku, tidak lupa tedapat sebuah sofa panjang hitam dan meja berukiran kuno di tengah-tenghanya.

Kriingg kriingg

Suara telepon yang berdering yang jauh dari tempat piano sukses membuat kosentarasiku pecah saat bermain piano. Aku bangkit dari duduknya dan menghampiri sebuah telepon hitam di meja kecil di sudut ruangan, malam-malam begini masih aja ada yang menerima telepon, tukasku.

Aku menangkat genggaa telepon tesebuat dan mendekatkan kearah telinga, dan aku mendengar ada suara serak dari seseorang yang mungkin aku mengenal suara pemilik itu.

“Hei, Jayden. Sudah lama kita tidak bertemu.”

lanjut ke part terakhirnya

43 tanggapan untuk “You’re My Daughter (part 2)

  1. wuihhhh ada photo Edward Cullen. Itu anaknya sama Bella bukan sih. atau dari film berjudul Imperfect Life? Belum tau filmnya juga. Btw ditunggu part 3 nya yaa

    Suka

      1. Wkwk, kirain cerita ini ada nyambung-nyambungnya sama twilight. Aku jd kepo, emang di twilight mereka sampe punya anaknya? Hihi ga tau filmnya

        Suka

  2. Semangat terus Mba Alya, kalau terus konsisten akan jadi sebuah suguhan cerita yang sangat menarik untuk semua orang, terlebih mereka yang menyukai genre ini. Goodluck 🙂

    Suka

  3. Tahu nggak sih, pikiranku udah kemana-mana aja kak wkwkw. Keren bisa bikin cerita kayak gini, sangat jarang yang bisa nulis dengan genre horor dan misteri ini. Udah coba ikut lomba belum kak?

    Suka

  4. wah asik sekali membacanya, sudah seperti membaca novel horror. Jalinan ceritanya, membuat terpaku, terus membaca. Coba dibuatkan bukunya Mbak

    Suka

  5. Hati langsung ‘deg’ di bagian Dad yang mencium bau darah segar…
    Gaya bahasanya menarik dan enak dibaca,Kak. Lanjutkan tulisannya yaa..Apakah menulis kisah fiksi di platform menulis digital juga?

    Suka

  6. perasaan kemarin baru aja baca part satu eh udah publish juga ternyata yang part terakhirnya. semoga ada series ini lagi ya, belum rela kalau ceritanya selesai

    Suka

  7. Ini diceritakan dari sudut pandang daddy ya? pantesan aku baca lagi, ini kukira jean sudah jadi vampir juga, eee..ternyata POV nya si daddy. Yang awal kayanya dari sudut pandang si Jean ya? bener kan ya, mbak alya?

    Suka

  8. Produktif sekali nulis ceritanya, Teh. Ini mungkin jadi semacam cerpen atau novelet ya? Ceritanya pas dengan ilustrasi Edward dan anaknya 😀

    Suka

  9. KIsah horornya keren nih Mbak. Part 1 perlu disimak dulu nih, terus lanjut ke part 3. Jadi tahu bagaimana endingnya. Semangat melanjutkan.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s