You’re My Daughter (part 1)

3 hari yang lalu setelah kejadian yang menyedihkan….

Kehidupanku sekarang terlihat berbeda tidak seperti dulu lagi, aku masih ingat dengan kejadian mengerikan yang membuatku trauma seumur hidup karena kehilangan istriku yang satu-satunya yang aku cintai. Aku tidak bisa menerima kematian ini dan mengapa istriku begitu cepat meninggalkanku, kita sudah berjanji bahwa hubungan ini akan terus bertahan hingga tua nanti. Apakah seseorang yang kucintai rela mendahuluiku untuk meninggalkan dunia ini daripada diriku sendiri ?

***

Hai, aku Jayden. Bisa dibilang aku paling berbeda diantara para manusia karena aku ini punya kemampuan dan fisik yang tak lazim daripada orang-orang normal yang kutemukan, aku terlahir kembali sebagai vampir yang ditakuti oleh manusia. Aku hidup di kelompok ras-ras yang sama denganku dan mereka tinggal di sebuah kerajaan yang terletak jauh di pegunungan tinggi. Namun, aku sendiri tidak tinggal di sebuah kerajaan kok, melainkan tinggal di sebuah tempat dimana merupakan warisan peninggalan ayahku, yaitu mansion. Aku menikah dengan salah satu wanita pujaan hatiku yang merupakan seorang manusia dan memiliki seorang putri kecilku yang satu-satunya bernama Jean.

Banyak yang bilang aku ini memang terkenal sekali karena diriku mempunyai fisik yang sempurna dan punya wajah paras yang tampan. Rambutku sedikit pendek dan sedikit acak-acakan bergaya comma hair berwarna hitam keunguan, poni rambutku sedikit panjang dan menyibak kearah samping dan sedikit berbentuk sebuah koma, kulitku putih seperti mayat dan iris mataku berwarna merah zamrud serta memakai kacamata kotak berwarna hitam. Wajahku memang terlihat muda dan tampan, bibirku tipis serta wajahku sedikit oval dan dagunya hampir lancip. Jujur aku merasa sedikit risih jika ada seseorang yang menyebutku tampan, karena menurut pribadiku sendiri aku ini sebenarnya monster yang selalu menghabisi mangsanya untuk mendapatkan darah yang segar. Kau tahu darah adalah sumber energi vampir dan sangat enak jika diminum karena rasanya manis seperti jus stroberi atau ceri.

Aku adalah seorang vampir sekaligus duda mempunyai satu anak peempuan yang kucintai bernama Jean. Dia sangat manis sekali dan wajahnya mirip seperti ibunya, hanya saja fisiknya mirip denganku. Rambutnya panjang sepunggung, poninya tipis dan sedikit kesamping. Wajahnya yang bulat, matanya sedikit bulat dengan iris matanya hitam yang sama dengan mata istriku. Bibirnya mungil tipis serta kulitnya putih sepertiku, ia terlihat seperti salju karena dia sendiri lahir tepat saat salju mulai berjatuhan dari langit, benar-benar seperti putri salju. Putriku juga punya penampilan yang unik karena dia adalah hasil persilangan antara diriku dan istriku, keturnan manusia-vampir. Cuman dia tak menujukkan tanda-tanda sifat vampir pada umumnya, dia terlihat seperti biasa pada mansia umumnya. Tetapi aku yakin fisik mata dan kulitnya mengakuinya bahwa dia mirip seperti vampir sepertiku.

Aku ini ayahnya yang cuek soal mengurusi anak, membiarkan putriku berceloteh terus ketika masih bayi, mengompol di celana, atau melakukan sesuatu yang menurutnya berbahaya bagi orang tua. Sehingga aku dibuat jengkel oleh istriku karena tidak menjaga anaknya dengan baik, toh aku ini sedang sibuk dengan pekerjaanku sebagai penerjamah dokumen Bahasa Belanda dan berlatih bermain piano untuk tampil di pesta ulang tahun raja vampir di istana. Tetapi aku menyadari bahwa Jean juga butuh kasih sayang kepada ayahnya selain ibu dan berpikir dia tidak lengkap jika dirinya berada di samping ayahnya, pernah putriku menangis di tengah malam dengan jeritan yang cukup melengking ketika tidur. Saat itu istriku tidak terbangun disampingnya karena sedang sakit akibat tuntutan pekerjaan rumah tangga.

Aku panik mendengar suara jeritan Jean dari kamar dengan cepat aku menghampiri ke kamar tidur dan melihat Jean menangis histeris di tempat tiurnya. Aku segera menggendong tubuh mungil Jean dan mendekapnya dalam pelukanku, dia langsung berhenti menangis dan mulai tenang ketika dirinya berada di dekapanku. Aku merasa popoknya merasa basah di celana Jean dan ternyata dia baru saja mengalami buang air besar di popok celananya. Ini menjijikan sekali, tetapi aku harus sigap menggantikan celananya dan membuang bekas popok itu serta menggantinya dengan popok baru. Di situlah aku sadar bahwa dia ingin meminta perhatian padaku dan terus mengajaknya bermain meskipun diriku sangat cuek dan sibuk mengurusi hal lain.

Kini putriku sudah menginjak 5 tahun, dia cukup ceria dan aktif bermain baik di luar maupun di dalam mansion. Dia tidak nakal seperti anak-anak pada umumnya dan cukup disiplin karena akulah yang mengajarinya cara mendisplinkan anak dengan baik, perasaanku sudah lega dan tenang melihat pertumbuhan kembang putriku dengan baik. Kadang dia juga sedikit manja dan sedikit nakal ketika menggangguku saat tidur siang, tetapi Jean adalah putriku yang satu-satunya kusayangi setelah istriku. Aku sangat senang ketika pertama kalinya mempunyai anak perempuan yang cantik dan sangat manis, begitu juga dengan Jean yang sama-sama sangat menyayangiku meskipun tidak menyadari bahwa dirinya adalah keturunan manusia-vampir sekaligus tidak tahu dengan identitas asliku kalau diriku ini sebenarnya adalah vampir.

***

Malam hari, aku sangat rutin sekali membacakan buku dongeng untuk Jean sebelum tidur. Jean sangat suka membaca buku hal apa saja seperti dongeng dan selalu memintaku atau mendiang istriku untuk membacakan buku dongeng sebelum tidur, menurutnya cara ini adalah paling cepat membuat Jean cepat ngantuk. Aku berbaring sambil menyenderkan ke senderan tempat tidur kayu jati sambil membacakan buku dongeng anak, sedangkan Jean tidur di sampingnya sambil menutup setengah selimut di wajahnya sambil menyimak.

“Akhirnya, Peter dan kawan-kawannya mendapatkan kapal bajak laut dan memutuskan untuk pulang dengan bantuan serbuk ajaib dari Tinkerbell agar bisa menerbangkan kapal bajak laut, selesai.” Ucapku sambil menutup buku dongengnya dengan pelan. Sedakbgkan Jean terlihat senang sambil membenarkan posisi tidurnya.

“Sekarang waktunya tidur.”

“Bolehkah Dad menceritakan dongeng sekali lagi?” pintanya.

“Tidak, Jean. Kau sudah cukup untuk mendengarkan kisah dongeng dari Dad, sekarang sudah larut malam dan segerahlah tidur.” Wajahnya langsung sedikit cemberut dan akhirnya memutuskan untuk bersiap tidur, aku bangkit dari tempat tidur dan membetulkan posisi tidur Jean serta menyelimuti tubuh mungil Jean. Tidak lupa, aku mengecup kening Jean dan mengucapkan selamat malam serta mematikan lampu tidurnya sebelum aku keluar dari kamar tidurnya.

“Dad.”

“Apa?”

“Bolehkah aku bertanya lagi?”

“Kau mau menanya apa?”

“Aku jadi ingat ketika Mum menceritakan dongeng ini padaku, aku sangat merindukannya.” Aku mengerinyit ketika Jean mengucapkan tentang mendiang istriku, kupikir Jean merasa belum menerima kepergian istriku sejak 3 hari yang lalu. Wajah Jean tidak sedih juga dan masih tersenyum kecil ketika mengenang sosok ibunya, aku jadi sangat rindu dengan istriku di sana.

“Dad juga rindu sama ibumu kok, sekarang ibu sudah bahagia di alam sana. Ibu sudah tidak ada lagi di aini, aku yakin Ibumu sangat bahagia melihat kita dari alam sana.” Kataku sambil menghampiri Jean.

Jean tersenyum kecil sambil memainkan boneka beruang cokelat kesayangannya. “Yeah, Dad benar. Tapi aku sangat yakin Mum selalu ada di sisi kita.” Aku sedikit terkejut ketika Jean mengatakan bahwa sosok istriku masih ada di sekitarku. “Di..Dimana?”

“Mum ada di sini.” Ucapnya dengan polos sambil memamerkan boneka beruang kesayangannya di hadapanku. Bonekanya terlihat manis dengan wajahnya yang polos serta matanya kecil seperti kelereng berwarna hitam serta hidungnya yang kecil dan mulutnya berbentuk angka tiga kebalik bawah yang seolah-olah seperti sedang tersenyum. 2 Telinganya bulat kecil serta bulunya yang lembut berwarna cokelat muda yang terbuat dari wool rajut.

“Bonekanya sangat bagus, Mum pintar sekali memilih boneka dengan kualitas yang baik dan memberimu sebagai hadiah ulang tahunnya.” Ucapku dengan tersenyum manis sambil mengusap lembut kepala Jean.

“Yeah, boneka ini memang sangat lucu sekali.” Ujarnya sambil memeluk boneka beruangnya. Aku melirik kearah jam dinding di atas pintu dan kini menunjukkan pukul setengah 12, sekarang waktunya untuk berburu mangsa. Aku kembali membenarkan posisi tidur Jean serta mengecup kembali ke kening Jean, baru saja ingin keluar dari kamar tiba-tiba Jean bertanya lagi.

“Dad, mau kemana?”

“Dad mau keluar karena ada beberapa pekerjaan yang Dad belum terselesaikan.” Kataku.

“Jangan pergi.” Jean langsung bangun dari tempat tidurnya. “Bisakah Dad menemaniku tidur?” Aku merasa bingung ketika Jean ingin memintaku untuk tidur bersamanya. Biasanya gadis berumur 5 tahun seperti Jean sudah terbiasa tidur sendiri dan tenang tanpa ada gangguan dari hal-hal yang membuatnya berisik, Jean tidak takut jika tidur sendiri meskipun berada di ruangan yang gelap. Dan kini Jean malah memintaku untuk menemanya tidur akhir-akhir ini.

“Aku tidak bisa tidur karena sedang badai hujan di luar sana, aku selalu mimpi buruk ketika tidur dalam keadaan sedang badai hujan yang mngerikan. Aku takut sekali, dad.” celotehnya sambil memasang wajah yang seperti ingin memohon. Jean benar, di luar memang sedang lagi badai hujan akhir bulan ini, padahal sebentar lagi mau memasuki musim dingin. Bagiku, aku masih bisa keluar mansion dan mencari mangsa dalam kondisi hujan atau sedang turun salju, karena kondisi cuacanya sedang buruk akhirnya aku memuntuskan untuk menunda sementara untuk mencari mangsa di luar.

Aku menghela nafas pendek. “Baiklah, Dad akan menemanimu untuk tidur.” Jean kembali terbaring di tempat tidur sambil menutup setengah tubuhnya dengan selimut, sedangkan aku menghampiri Jean kedua kalinya dan menaiki tempat tidurnya. Kita berbagi tempat tidur dan sama-sama memakai selimut tebal berwarna merah biru, Jean bergeser mendekatiku sedangkan aku memeluknya untuk menghangatkan tubuh Jean seperti pasturi yang saling berpelukan saat tidur.

Jean merasa nyaman di dekapanku tepatnya bersender di dada bidangku, aku membelainya dengan lembut sambil mengecup pelan ke rambut Jean.

“Selamat tidur, Dad.” Ucapnya di dalam pelukanku.

“Selamat tidur juga, Jean.” Gumanku sambil bersenandung kecil menyanyikan lagu pengatar tidur.

next part 2

33 tanggapan untuk “You’re My Daughter (part 1)

  1. ternyata aku justru pernah baca yang endingnya nih, aku baru baca nih justru awalnya ternyata ini toh asal muasalnya. keren nih udah berasa baca novel, keep up yaa nulis kaya gini siapa tau nanti bisa jadi novel nih

    Suka

  2. Habis ini langsung meluncur ke part 2 nya nih. Saya suka banget cerita vampir, menurun dari Ibu saya yang sangat doyan. Cerita ini bikin penasaran kapan Jean mulai merasakan rasa haus akan darah, mengingat dia half manusia half vampire
    Btw Alya berbakat banget bikin cerita. Sudah pernah menulis di platform seperti wp atau storial kah?

    Suka

  3. Seru banget… Lah ini baru part 1 nya, ku nanti Kan part 2 nya, gimana dia bisa lepas dari pelukan anaknya malam ini demi mencari mangsa, kubayangkan apakah mengendap2 kayak meletakkan jarum juga wkwk

    Suka

  4. wah menarik banget, kayaknya cerita ini pov dari ayah Jean cerbung judul vampir ya kak? aku jadi lebih tau perasaan dan pandangan dari ayah jean

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s