Pengagum Kenangan (end)

Lanjutan dari part 3

***

Sejak dua minggu kemudian, Arin tidak pernah terlihat lagi di gedung kantor sehingga membuat Irwan menjadi khawatir dengan keberadaan Arin sekarang. Sudah beberapa kali Irwan terus menghubungi kontak Arin tetapi tidak pernah di jawab baik lewat telepon maupun via chat, Irwan bertanya beberapa karyawan yang merupakan rekan-rekan kerja Arin tetapi tidak ada satupun mereka tidak mengetahui kemana Arin itu pergi. Irwan menjadi frutasi dan hampir gila yang membuat para karyawan itu merasa khawatir dengan kondisi atasannya, tetapi ada seorang wanita berbadan sedikit gemuk yang merupakan teman dekat Arin itu mengatakan bahwa sebenarnya Arin sudah selesai magang seminggu kemarin dan kini Arin kembali untuk melanjutkan fokus skripsinya.

Mendengar kabar itu, Irwan menjadi sedih sekaligus kecewa terhadap Arin karena dia tidak memberitahunya dari kemarin, mungkin Irwan berpikir wakttu itu Arin tak sengaja membaca buku jurnal miliknya dan dia menemukan sesuatu yang membuatnya kecewa sehingga dia tidak pernah lagi berhubungan kontak dan pergi meninggalkan begitu saja. Sejak kejadian itulah, Irwan kembali fokus untuk bekerja dan perlahan-lahan Irwan melupakan semua dengan sosok Arin. Kini, Arin sudah pergi dan tidak pernah kembali lagi sejak peristiwa buku jurnal kemarin yang lalu. Irwan ikhlas menerima kepergian Arin dan sangat berterimakasih kepadanya karena dia sudah membantu banyak dalam berbagai hal pekerjaannya sebagai asisten Irwan dan berjanji tidak akan melupakan kebaikan Arin dan ketulusannya selama dia berada di sisinya.

1 Bulan kemudian.

Saat sedang jam istirahat, Irwan mampir ke tempat cafe yang di mana pertama kalinya Irwan bertemu Arin secara langsung dengan mengungkap keberaniannya. Hujan mengguyur deras di siang hari sehingga banyak genangan air di jalanan hingga menyebabkan sebagian jalanan kota mulai tergenang banjir, tetapi hujan tidak menghalangi Irwan untuk pergi ke cafe karena dirinya sudah terbiasa bepergian di tengah hujan. Irwan memasuki cafe sambil menutup payungnya dan segera memesan minuman kopi, Irwan mencari tempat mejanya yang seperti biasa duduk di sebelah pintu cafe yang menjadi tempat favoritnya Irwan.

Sambil menunggu pesanan, Irwan memainkan ponselnya supaya terhindar dari rasa bosan. Irwan menatap kearah sebuah meja di sudut ruangan tempat Arin bersinggah sambil bekerja menatap laptopnya, Irwan masih ingat momen dimana dirinya mulai memberanikan diri untuk menghampiri Arin dan memulai percakapannya. Kini, meja itu masih kosong dan tidak di duduki oleh seseorang satupun, Irwan berharap semoga Arin datang kembali lagi dan menepati meja itu di sudut ruangan.Perlahan-lahan, hujan mengurangi tetesan air hujannya dan awan mulai membubarkan diri sehingga langit menjadi rata berwarna abu-abu putih. Irwan masih memainkan ponselnya sambil ditemani oleh segelas kopi hangat di mejanya, tiba-tiba seorang perempuan masuk ke dalam cafe dan memesan sebuah minuman ke tempat barnya.

Perempuan itu sudah tidak asing lagi bagi Irwan, perempuan itu tampak mengenakan jaket rajut berwarna navy serta memakai kaos pendek berwarna merah. Dia memakai celana katun pajang bewarna hitam dan rambutnya hitam panjang di biarkan terurai sampai ke punggung. Tidak lupa, dia juga memakai tas selempang kecil yang ia pakai. Kulitnya putih dan wajahnya terlihat sangat cantik seperti Gadis Korea, Irwan yakin bahwa perempuan itu adalah Arin yang hilang selama satu bulan.

Setelah membayar, perempuan itu pergi meninggalkan cafenya sambil membawa sebuah gelas karton berisi minuman coklat panas dan juga membawa payungnya berwarna merah. Irwan pun mulai mengikutinya dan meninggalkan cafenya sambil membuka payungnya berwarna hitam supaya tidak kehujanan di luar.

***

Irwan terus mengikuti perempuan itu kemanapun ia pergi, perempuan itu berjalan dengan anggun sambil membawa payung berwarna merah di pinggiran kota sambil meminum segelas karton berisi coklat panas berkali-kali dan membuang gelas karton itu ke tempat sampah karena sudah habis. Berkali-kali, Irwan selalu menyela orang-orang lalu-lalang di pinggiran jalan dan beberapa kali mengucap ‘permisi’ sambil menggenggam payungnya dengan kuat. Sayangnya, Irwan kehilangan jejak perempuan itu akibat terhalang oleh kerumuan orang sehingga Irwan berusaha mencari keberadaan perempuan berpayung merah di sekitar perkotaan.

Akhirnya, Irwan ketemu sosok perempuan berpayung merah itu yang kali ini ia berjalan kearah taman kota. Irwan pun mengikuti perempuan berayung merah itu lagi dan sebisa mungkin sambil bersembunyi terus supaya perempuan itu tidak ketahuan. Hujan semakin mereda dan perlahan-lahan langit biru mulai tampak di balik selimut awan yang tebal, Irwan terus mengikuti perempuan itu hingga sampai di tengah jembatan. Tamannya sangat luas di kelilingi oleh jejeran pohon yang tinggi serta banyak taman-taman bunga berkeliaran dan terdapat sebuah sungai yang mengalir serta serta terdapat jembatan besar di tengah sungainya.

“Arin!” seru Irwan untuk memanggil ke arah perempuan itu, perempuan itu berhenti di tengah jembatan dan berbalik menatap kearah Irwan. Dugaan itu benar, ternyata perempuan berpayung merah itu adalah Arin.

Irwan tampak senang karena bisa bertemu lagi dengan Arin sekian lamanya, “Saya tidak menyangka bahwa itu kau,” raut wajah Irwan kembali menujukkan sedikit kecewa terhadap Arin. “Kenapa kau pergi begitu saja tanpa memberitahu saya?” Arin menatap sendu sambil memegang sebuah payung merah yang ia gunakan. “Sebenarnya saya sudah selesai magang seminggu yang lalu dan saya harus kembali ke kampus untuk melanjutkan skripsi. Saya sengaja tidak memberitahumu karena ada sesuatu rahasia yang tidak mau saya ungkapkan padamu.” Kata Arin.

Irwan bingung dengan rahasia yang ia simpan di hatinya, “Rahasia apa?” Arin mulai memberanikan dirinya untuk mengungkapkan sesuatu. “Kau akan terkejut jika saya menyampaikannya padamu. Sebenarnya gadis kecil yang menyukaimu waktu dulu itu,” Arin menghela nafas dengan panjang agar Arin bersiap untuk mengakuinya. “Saya sendiri, gadis kecil yang di foto yang saya lihat itu saya sendiri.” Ujarnya sambil melepas perasaan dengan lega. Irwan tekerjut mendengar pengakuannya bahwa perempuan yang Irwan sukai itu ternyata adalah muridnya sendiri. “Ka—Karina?” ucap Irwan dengan terbata-bata karena merasa tidak percaya bahwa dirinya bisa bertemu lagi dengan muridnya yang mengaguminya waktu dulu.

Flashback.

“Pak.” Suara kecil itu membuat Irwan tersentak kaget dan menoleh kearah sosok gadis kecil berseragam merah putih di balik pintu ruang kantor guru. Dialah Arin, sosok gadis kecil yang lugu berambut hitam panjang memakai pita merah itu terlihat berdiri sambil malu-malu di balik pintunya. Irwan terlihat sedang membereskan beberapa buku paket murid-murid kelas dan perlengkapan tulis dan spidol untuk mengajar. Irwan tersenyum menatap kearah Arin kecil sehingga membuat ia tersipu malu sambil bersembunyi di balik pintu.

“Ada apa, Arin?” tanya Irwan.

“Ma—maaf, hari ini jadwal pelajaran Bahasa Inggris di kelasku.” Pinta Arin.

“Oh, baiklah. Tetapi bisakah kau meminta tolong bapak untuk membawakan buku ini?” ucapnya sambil beranjak dari duduknya untuk bersiap mengajar, Arin mengangguk kecil dan memberanikan diri untuk membantu Irwan membawakan buku-bukunya untuk di bawa ke kelas.

Sejak itulah, diam-diam Arin mulai menyukainya sehingga sering diledek oleh teman-temannya karena mereka tahu kalau Arin sangat suka dengan Irwan. Bahkan, Irwan memberikan sebuah boneka rajut berbentuk seorang perempuan kepada Arin sebagai hadiah ulang tahunnya. Irwan berkata bahwa boneka ini sangat cantik dan mirip seperti Arin sehingga Irwan memberikannya ini sebagai kenang-kenangannya. Arin berterimakasih dengan hadiah ini dari Irwan, dan Arin sering membawa bonekanya itu kemana-mana.

Sayangnya, semenjak Irwan sudah menikah, Irwan keluar dari sekolahnya karena harus pindah ke kota lain sehingga Arin merasa sedih karena kehilangan seseorang yang sangat mengaguminya. Sejak itulah Arin melupakan semua kenangan-kenangannya itu dan menyimpannya boneka pemberian Irwan dan tidak pernah di sentuh lagi.

Flashback end.

Irwan mengingat semua kejadiannya dulu dan menyadarinya bahwa Arin masih merindukannya dan ingin bertemu dirinya lagi, sedangkan Arin mulai melangkah mendekati Irwan sambil membawa sesuatu. “Saya mengingat kenangan ini setelah tidak senagaja membaca buku jurnal milkmu. Setelah saya mengalami kecelakaan lima tahun yang lalu, memori masa lalu saya menjadi lenyap termasuk kenangan-kenangan saat kita saling menyukai di sekolah. Tetapi, saya masih ingat saat pernah di berikan oleh sebuah hadiah dari seseorang yang pernah saya temui.” Ucap Arin dengan lirih.

“Saya masih ingat denganmu, Saya juga merindukanmu.” Ucap Irwan dengan pelan. Arin kaget mendengar pernyataannya dari Irwan, Arin mengeluarkan sesuatu dari tas selempangnya dan ternyata itu adalah sebuah boneka rajut pemberian dari Irwan saat dirinya masih kecil. Kini, boneka itu sudah terlihat sedikit kusam dan masih terlihat bagus fisiknya karena sudah di simpan selama bertahun-tahun. “Dulu kau memberikan hadiah boneka rajut kepada saya waktu dulu. Ambilah, ini adalah hadiah dari saya sebagai kenang-kenangan.” Kata Arin sambil menyerahkan boneka itu kepada Irwan, Irwan menerima bonekanya itu dan memandangi bonekanya yang mulai basah akibat terkena tetesan air hujan.

“Tetapi, kita tidak bisa bertemu lagi karena kita berada di jalan yang berbeda, kau sudah bahagia bersama keluargamu dan juga istrimu. Kau hanya cukup menatap boneka ini sebagai melepas rindu tentang saya.” Kata Arin. Irwan tampak tersenyum kecil sambil menatap kearah Arin. “Terimakasih sudah membantu saya dan sudah menemaninya dari dulu.”

Arin membalas senyumannya dengan sedikit lirih, “Terimakasih juga karena kau sudah mengajarari saya dan juga kebaikanmu dari dulu.” Arin memegang erat ganggang payungnya dan mulai tenang dengan perasaannya. “Selamat tinggal.” Ucap Arin sambil perlahan mundur menjauhi Irwan.

Akhirnya, Arin pergi meninggalkan Irwan sendiri di tengah jembatan, Irwan tersenyum menatap Arin yang kini sudah menjauh meninggalkan taman kotanya. Mereka berjanji tidak akan melupakan kenangan manisnya itu dan tetap saling mendukungnya meskipun mereka tidak bisa bertemu lagi.

FINN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s