The Vampire (Part 4)

Lanjutan dari part 3

Lagi-lagi, Jean dibawa ke tempat mansion lagi yang lebih tepatnya di sebuah lorong panjang dan disertai penerangan lampu di sekitar dindingnya. Jean merasa tak pernah menelusuri tempat ini sebelumnya, ia baru sadar ternyata sebuah lorong lagi dekat dengan penghubung ruang utama. Vampir itu tidak ada disekitar Jean, Jean bernafas lega karena Si Penghisap Darah itu tidak ada di sekitarnya.

Kruukkk

Perut Jean mulai bergetar bahwa tandanya perut ingin meminta asupan makanan, Jean berjalan menelusuri lorong panjang disertai penerangan yang meredup dan terus berjalan tanpa melirik ke belakang. Sekarang sudah menunjukkan pukul dua belas malam di jam tangannya, suasananya semakin mencekam serta udaranya yang dingin dan mulai menusuk kulitnya.

Jean terus berjalan hingga menuju ke arah ujungnya. Sampai di sana, Jean berada di sebuah ruang makan yang luas yang bernuansa gothic. Lampu-lampu bergaya Perancis vintage  turut menerangi ruangan makan besar yang terang serta beberapa pajangan seperti lemari antik dan lukisan-lukisan kuno yang ikut menghiasi ruang makan ini. Mejanya sangat panjang dan banyak sekali bangku-bangku yang berjejer di depan mejanya serta beberapa piring-priring, serbet, hingga peralatan makanan yang di tata rapih seperti di restoran. Jean terpana melihat seluruh ruang makan ini seperti di istana mewah, Jean merasa lapar dan menatap sekeliling meja makan untuk mencari makanan apa yang bisa dimakan.

Mata Jean tertuju pada sebuah Kue muffin yang terletak di tengah meja dengan dekorasi yang indah, bentuk muffin itu terlihat biasa saja seperti muffin pada umumnya, teksturnya kasar dan hanya saja ada sedikit bercak berwarna merah mencolok di permukaan muffin itu. Seperti Muffin isi Blueberry. Tanpa berpikir panjang, Jean pun mengambil sebuah muffin dan mencoba memakannya. Awalnya tidak terjadi apa-apa dengan muffin itu dan memakannya. Tiba-tiba Jean merasakan ada yang aneh dengan isi muffin itu. Benar saja, Jean langsung memuntahkannya kembali dari sisa-sisa muffin itu karena rasanya seperti besi. Betapa terkejutnya, ternyata isi muffin itu berisi cairan darah kental yang keluar dari muffin nya, Jean shock setelah menyadari bahwa dirinya tidak sengaja memakan muffin berisi darah.

“Kau suka?” ucap ayahnya yang tiba-tiba muncul sambil duduk di meja yang panjang, Jean memukul dadanya berkali-kali sambil tersedak-sedak agar sisa muffin itu keluar dari mulutnya. Jean menyeka mulutnya dan membersihkan sisa-sia bekas muffin di mulutnya. “Sial, lagi-lagi ayah membawaku kesini. Sebenarnya apa tujuan ayah membawaku kesini?” ujar Jean dengan menatap kesal.

Sedangkan ayahnya hanya bersikap santai sambil meminum segelas jus darah segar. “Membawamu kesini karena kau adalah tamu kedua ku sekaligus menyambut putriku yang sudah puluhan tahun tidak bertemu dengan Ayah. Ayah sangat bahagia karena putri kecil ku ini sudah pulang, dan Ayah sengaja memberikan makanan itu padamu karena kau terlihat sangat lapar.” ucapnya sambil meminum kembali segelas jus darah segar. “Ayah sengaja membuat muffin untukmu karena kau masih ingat bahwa kau sangat suka sekali dengan muffin buatan ibumu dulu.”

Jean terdiam dan mengingat kembali kenangan masa lalu nya, Jean ingat bahwa dirinya dulu sangat menyukai muffin buatan ibunya yang dulu. Tetapi dirinya sendiri sudah lupa dengan wajah sosok ibunya. Ayahnya hanya menatap sinis terhadap anaknya yang terlihat bingung dan tidak bisa berbuat apa-apa. “Ayah sengaja menambahkan selai darah ke muffin itu karena kau akan suka dengan makanan itu, Ayah bangga sekali karena kau sudah memakan muffin berisi darah itu dan sebentar lagi kau akan menjadi vampir selamanya.” Ujarnya sambil tersenyum menyeringai.

Jean hanya bisa terdiam sambil menatap sisa-sisa muffin yang keluar dari mulutnya di lantai. Sedangkan badannya mulai bergetar hingga mengeluarkan keringat dingin dari pelipisnya, tangannya mulai mengepal dengan keras serta tatapannya mulai menunjukkan emosinya. “Makhluk Brengsek! Jadi begini caranya ayah memancing korbannya agar Ayah membunuh korbannya itu dengan mudah, seharusnya Ayah mati saja!?”

Mendengar ucapan dari anaknya, Ayah mulai marah sambil menggertakkan gigi taringnya di mulutnya, matanya terlihat tajam hingga irisnya berwarna merah pekat kearah anaknya.“Anak kurang ajar!?” seru ayahnya sambil membanting gelas berisi jus darah hingga pecah, Jean kaget mendengar suara pecahan gelas yang keras sehingga cairan darahnya berceceran di lantai bersama pecahan-pecahan gelasnya. Jean merasa takut dan badannya tidak bisa bergerak, ayahnya bangkit dari duduknya dan mendekati Jean dengan tatapan yang mengerikan.

“Dasar anak tak tahu diri!? Berani-beraninya sudah melawan orangtua, kau pikir mendidik anak dengan baik itu gampang. Ayah dan Ibumu sudah berusaha bersikap baik mendidikmu dari dulu, tetapi kau hanya membalas perlakuan begini terhadap Ayah. Apakah kau tidak suka dengan didikan dari orangtua!? Dimana sopan santunmu.” Seru Ayahnya sambil membentak keras kepada Jean. Jean hanya berdiri kaku sambil menatap sedih, bibirnya terlihat bergetar serta badannya berkeringat dingin dan tidak bisa bergerak.

“Ayah berusaha keras mendidikmu dari kecil, dan sekarang seenaknya saja kau menentang dari perintah Ayah!? Kau anak yang buruk, Jean” Jean bergidik ngeri melihat ayahnya yang sangat mengerikan, perlahan-lahan Jean mulai menunjukkan emosinya. “Kau lah Ayah yang buruk, kenapa Ayah tega membuangku!?” Seru Jean yang tidak mau kalah dari ucapan lantang Ayahnya. Kini suasananya menjadi hening serta menjadi tegang, Ayahnya hanya berdiam diri sambil menatap dingin ke arah anaknya yang sedang mulai marah.

“Jadi begini alasan paman dan bibiku sengaja menyembunyikan tentang orangtuaku karena orangtuaku adalah vampir. Ayah sengaja berbohong mereka dengan membuat karangan cerita kepadaku bahwa orangtuaku sudah meninggal karena kecelakaan, dan Ayah sengaja melakukan ini karena Ayah tidak mau bertemu denganku lagi sejak kematian ibuku.” Tangisan Jean mulai pecah saat menceritakan tentang kebohongan Ayah terhadapnya, badannya semakin bergetar hingga keringatnya mulai membasahi tubuhnya.

Sedangkan ayahnya hanya bisa terdiam tanpa menujukkan emosi di wajahnya, Ayahnya berkata. “Yang bilang Ayah ngarang cerita itu siapa, mereka lah yang merekayasa cerita ini padamu. Lagipula, Ayah tidak peduli saat kau lahir di dunia ini.” Jean terbelalak kaget mendengar ucapan ayahnya, dirinya tersadar bahwa selama ini ayahnya tidak mencintai dirinya dan lebih mencintai ibunya sendiri.Tubuhnya kembali bergetar hebat seolah-olah amarahnya mulai memuncak. “Jadi Ayah ingin menikahi ibuku karena hanya gairah seksual saja, dan seenaknya saja Ayah memanfaatkan ini karena Ayak ingin mengubah ibuku menjadi vampir seperti para keturunannya.”

“Ayah tega meninggalkan ibuku saat berjuang melahirkanku hingga dia mati. Sedangkan Ayah seenaknya saja menangkapku dan mengubahku menjadi vampir.” Isak tangis Jean yang perlahan-lahan mulai melemah karena energinya terkuras habis akibat meluapkan emosinya. “Kau Ayah yang buruk, seharusnya aku tidak di lahirkan dan mempunyai orangtua yang aneh sepertimu.”

Akhirnya Jean meninggalkan ruang makan itu sekaligus meninggalkan ayahnya seorang diri, sedangkan ayahnya hanya bisa terdiam kaku serta tidak menunjukkan belas kasihannya. Jean berlari melewati lorong yang panjang sambil menintikkan air matanya sampai berada di ruang tamu utama. Saat Jean ingin keluar dari mansionnya, tiba-tiba Jean mendengar sesuatu yang seolah-olah membawa Jean untuk pergi ke atas.

Lanjut ke part the vampire end

61 tanggapan untuk “The Vampire (Part 4)

  1. Wah aku kayaknya harus baca yang pertama dulu nih biar lebih paham, tapi kalau baca atau nonton tentang vampire tuh suka gemes-gemes gitu.

    Suka

  2. Apakah Jean bakalan jadi vampir setelah memakan muffin berisi darah yang disiapkan ayahnya? Lagi asyik baca eh selesai part.y 😅

    Dulu pernah bikin blog isi cerpen tapi stuck anis karena bikin konten cerita nggak bisa se cepet bikin konten umum.

    Thank u ceritanya.

    Agung Kharisma (Daily Blogger Pro Academy)

    Suka

  3. Saya harus membaca dari awal nih. Karena masih menebak-nebak apakah ibunya Jean itu manusia biasa atau vampir juga. Meskipun di sini kayaknya tadi saya baca kalau ibunya memang vampir

    Suka

  4. akhirnya udah mau kelar ya mba al, mantep kali. yang ini aku agak berani baca nih. Ayahnya yg vampire ini mau ngejebak anaknya juga buat jadi vampire ya. jebakan vampire versi baru, menaruh darah di makanan, hihi

    Suka

  5. Seruu ceritanya ,cuma sedikit masukan boleh yaa, mungkin lebih diperhatikan untuk penggunaan kata ganti orang pertama dan kedua , misalnya aku, dia dan lainnya, soalnya kadang bingung ini cerita dari sudut pandang Jean sendiri atau si pengarang, terima kasih, tetap semangat yaaa !

    Suka

  6. Seru banget Mbak Alya. Ternyata ayahnya Jean suka makan darah orang, terus jeannya pemburu vampir…wehhh gimnanaa ini kelanjutannya

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s