DEAR SOUL (Part 1)

Pada suatu hari, seorang dua anak sedang asyik bermain sepeda di sekitar Kota Seoul. Mereka adalah Kim Chaejung dan Lee Songbin. Mereka sudah bersahabat sejak TK, Songbin berusia 12 tahun, Dia adalah seorang anak laki-laki dan juga mempunyai seorang sahabat yang bernama Chaejung. Chaejung sendiri merupakan seorang gadis berumur 10 yang cantik, namun sayangnya ia yatim piatu dan terlahir dengan bisu sehingga ia tak bisa berbicara dan hanya bisa menggunakan Bahasa isyarat. Bagi Songbin, ia tetap berteman dengan Chaejung tanpa memperhatikan pandangan fisiknya, sehingga mereka semakin dekat dan bahkan sering bermain bersama. Songbin kecil terus mengayuh sepeda terus sedangkan Chaejung terus mengenggam erat bajunya Songbin.

Langit sudah sore, langit mulai menjadi kuning dan matahari sudah menenggelamkan diri di ufuk barat. Mereka ahirnya sudah sampai di tepi Sungai Han. Mereka turun dari sepeda dan menghampiri ke tepi sungai Han. Sungai-sungai nya terlihat jernih serta sedikit bersinar akibat pantulan sinar matahari, kapal persial berjalan di atas sungai sambil memamerkan kapalnya, serta jembatan yang besar di atas Sungai Han yang selalu di lalu-lalang oleh kendaraan yang melintas di jembatannya, Kota-kota Seoul yang strategis  dan Gedung-gedung pencakar langit yang seolah-olah sedang berlomba untuk menjadi yang tertinggi ke atas langit. Kini, mereka berdiri di tepi Sungai Han sambil menikmati senja. Burung-burung bertebangan mengarah keaarah Matahari yang sudah menenggelamkan sedikit.

“Pemandangan ini indah sekali.” Songbin terlihat menikmati pemandangan Kota Seoul dari pinggir Sungai Han.

Kenapa kau membawa ku ke sini?  Kata Chaejung sambil menggerakan tangannya sebagai Bahasa isyarat.

“Oh ya, Aku membawa mu ke sini sebagai kenang-kenangan terindah.” Ucap Songbin sambil melakukan gaya bahasa isyarat. “Dan ini sebenarnya hari terakhir ku bersama mu di Kota Seoul.” Lanjut Songbin.

Chaejung kaget mendengar pernyataan Songbin dan kembali memberi bahasa isyarat itu sambil menatap sedih. Kenapa ?

Songbin sebenarnya tak tega dengan Chaejung dan merasa bersalah karena harus meninggalkan Chaejung sendiri.

“Maafkan aku, Chaejung. Ini pilihan ku hanya satu-satunya, Ayahku ditugaskan untuk bekerja ke Kota Busan. Jadi mau tak mau, keluarga ku harus pindah ke kota Busan. Dan aku akan pindah setelah lulus SD nanti.” Jawab Songbin sambil melakukan gerakan tangan isyaratnya.

Chaejung semakin sedih karena harus berpisah dengan sahabat nya yang ia temani. Chaejung harus ikhlas dan merelakan Songbin untuk berpisah untuk pindah ke Busan.

“Oh iya.” Songbin mengeluarkan sesuatu dari sakunya itu dan memberikannya kepada Chaejung. Ternyata itu adalah sebuah kalung berbentuk bunga mawar dari Songbin.

“Simpanlah kalung ini, ini adalah hadiah kenang-kenangan dari ku. Kita janji, suatu saat kita akan bertemu lagi.” Kata Songbin sambil melakukan gerakan tangan isyaratnya.

Chaejung tersenyum lirih melihat kalung yang indah itu dari Songbin.

Terima kasih. Kata Chaejung dengan Bahasa isyarat.

Songbin memeluk Chaejung itu dengan erat sehingga tubuh Chaejung merasa hangat di dekapan Songbin. Chaejung menintikkan air matanya sambil menggenggam kalung itu. Chaejung sebenarnya tak rela dengan pernyataan Songbin. Dan dirinya harus merelakan Songbin untuk pergi dengan beberapa waktu yang sangat lama. Ia ingin berharap suatu saat nanti Songbin masih ingat dengan dirinya dan terus saling surat menyurat.

Aku akan selalu merindukanmu, Ucap Chaejung dalam hati.

9 tahun kemudian

Songbin baru saja dirinya menang sebagai Best Aktor terbaik di acara Seoul Awards yang di selenggarakan di Kota Seoul. Songbin dengan mantap, menaiki panggung tersebut dan menerima piala penghargaan dari Artis yang mengisi pengumuman nominasi itu.

Songbin memegang piala itu dan membenarkan mic nya yang tertancap di atas podium.

“Terimakasih untuk semuanya yang sudah mendukung sayal, teman-teman saya beserta keluarga saya. Saya harap, semoga saya tetap berusaha untuk melakukan yang terbaik dan juga menjadi sukses sebagai aktor terbaik.” Ucap Songbin.

Seluruh penonton memberi tepuk tangan yang meriah dan sukses memecahkan keheningan di acara Seoul Awards. Songbin bangga dirinya di terima baik oleh kalangan artis dan juga fans-fans nya yang sudah mendukungnya. Meskipun masih di bilang actor pendatang baru, kemampuan aktingnya tidak bisa di pungkiri lagi yang membuat Songbin layak menjadi Best Aktor terbaik. Songbin turun ke panggung masuk lewat panggung belakang. Seluruh staf tak hentinya memberikan selamat kepada Songbin.

Di sebuah ruang khusus artis. Sekelompok girlband yang terkenal bernama Daydream tampak sibuk berdandan untuk bersiap perfom di atas panggung. Chanmi sibuk mendandanin dirinya di cermin. Kulitnya berwarna putih, Rambutnya panjang berwarna coklat, serta wajahnya yang sudah di poles dengan makeup sehingga menjadi cantik. Ia juga menggunakan dress pendek berwarna biru muda tanpa lengan, dan memakai kalung yang berbentuk kristal biru serta terdapa mic kecil yang menempel di pipinya untuk perfom nanti.

Akhirnya para member Daydream keluar dari ruangan kecil dan pergi menuju panggung untuk melakukan perfom. Para member Daydream terlihat berjalan sambil berbicara ria di sepanjang lorong gedung. Chanmi melihat Songbin yang sedang berjalan sambil membawa piala itu tepat di sampingnya.

Hal itu membuat Chanmi mendapat kesempatan untuk menemui Songbin. Dan Chanmi melakukan sebuah ide agar ia bisa bertemu Songbin dengan cara berpura-pura kepada rekan membernya. “Eh semuanya. Aku mau ke toilet dulu.”

“Oke, jangan lama-lama ya. Bentar lagi kita mau perfom.” Kata salah satu member Daydream.

Chanmi berlari menghampiri Songbin yang sedang berjalan di lorong.

”Oppa!”

Songbin kaget menoleh ke belakang dan mendapati Chanmi yang berlari menghampiri Songbin.

“Chanmi, Bukannya sekarang kamu harus perfom bersama Daydream?” Tanya Songbin.

“Iya, 5 menit lagi.” Chanmi menarik nafas sebentar akibat kelelahan berlari. “Selamat ya jadi Aktor terbaik. Padahal kau kan masih artis pendatang baru.”

“Terimakasih.” Tukas Songbin.

“Oh ya, kemarin manajer ku bilang untuk jadwal konser perfom Daydream di Incheon dibatalkan karena masalah biaya. Untungnya kita tetap bisa untuk berkencan nanti malam kan?” Ucap Chanmi.

Songbin terkejut mendengar pernyataan kata “kencan” dari Chanmi.

“Bukannya kita tak boleh berpacaran, jika kita ketahuan manajer agensi gimana.” Kata Songbin

“Aku tidak peduli, kita lakukan ini secara diam-diam. Sekaligus kita melakukan ini sebagai perayaan selamat atas kemenangan kamu.” Kata Chanmi.

“Harusnya kita tidak usah pacaran,” Lanjut Songbin.”Ingat, Paparazzi dan sekitarnya selalu mengawasi kita.” Songbin meninggalkan Chanmi sendirian di sekitar lorong.

Sedangkan Chanmi melihat Songbin dari jauh sambil menatap sebal.

Di Rumah, Chaejung menghabiskan hidupnya dengan melukis. Kini Chaejung sudah berusia dua satu tahun. Ia berhenti kuliah karena masalah krisis ekonomi sehingga Chaejung memutuskan bekerja sebagai Freelance design grafis sebagai salah satu pekerjaan satu-satunya untuk mencari uang. Meskipun bekerja sebagai Freelance, Chaejung sering bekerja sampingan dengan membuka bisnis jasa desain interior ruangan. Tak jarang, banyak sekali klien-klien datang untuk meminta permintaan gambar interior yang klien sukai untuk kepentingan rumah. Selain Freelance dan membuka jasa desain Interior, Chaejung sangat suka berbau seniman dan suka melukis. Ia berharap suatu saat karyanya ingin terkenal dan juga sukses menjadi seniman yang terkenal.

Chaejung terus fokus melukis di canvas nya dan sibuk menggores-gores kuas di kanvas nya. Sinar matahari di pagi yang cerah hingga menembus lewat jendela sehingga menerangkan seisi kamar Chaejung. Chaejung berkali-kali menyibak rambutnya yang panjang agar helaian rambutnya tidak menhalangi matanya.

Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamar dan seseorang itu masuk ke kamarnya. Ternyata itu adalah kakeknya yang sudah lama Chaejung sudah tinggal di rumah nya bersama kakeknya.

“Chaejung, keluarlah waktunya sarapan.” Kata Kakeknya sambil melakukan Bahasa isyarat.

Source : Pinterest

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s